Minggu, 29 Januari 2017

Antasari

The Messenger Antasari Azhar : Gue Bongkar atau Menyerah !

Debat kedua Pilkada DKI kemarin malam di Bidakara Hotel benar benar berlangsung seru, menegangkan dan lucu. Debat ini tidak saja membuat mata seluruh rakyat Indonesia tertuju kepada pasangan calon, tapi kehadiran mantan Ketua KPK Antasari Azhar menyedot perhatian semua hadirin, wartawan dan pemirsa telivisi.

Untuk apa Antasari Azhar hadir di Bidakara sebagai tamu VIP ? Apakah kehadirannya sebagai utusan Jokowi karena sehari sebelumnya Antasari telah bertemu empat mata dengan Presiden Jokowi?

Saat Antasari memasuki Bidara Room tempat debat berlangsung, semua mata langsung tertuju kepadanya. Saya kebetulan sedang melakukan siaran langsung via FB. Melihat sosok Antasari, kamera handphone langsung saya arahkan ke wajahnya.

Dari pintu masuk hingga tempat duduk kursi VIP, saya dan rekan rekan media terus mengejar Antasari. Saat Antasari Azhar berjalan dan menyalami beberapa tamu VIP, terdengar sorakan keras dari pendukung kotak kotak “Bongkarrr!!! Bongkarrr!!! Bongkarrr !!!! Bongkarrr !!!!.

Ada puluhan kali teriakan BONGKAR terdengar sangat keras di Bidara Room itu. Teriakan ini tentu untuk memberi semangat agar Antasari tidak takut membongkar misteri keterlibatan petinggi negeri yang diduga telah menjebloskannya ke penjara.

Kasus Antasari Azhar kembali diangkat media. Ramai orang menduga Antasari tidak bersalah dan bukan pembunuh Dirut RNI Nasrudin Zulkarnaen. Bahkan adik kandung korban Andi Syamsudin Iskandar  membela Antasari. Itu hanya rekayasa sesat yang sarat aroma konspirasi tingkat tinggi elit kekuasaan. Antasari dikriminalisasi agar tidak menjadi ancaman, begitu selentingan kabar menyeruak.

Saat saya tanyakan mendukung siapa, Antasari dengan datar menjawab mendukung Pak Jokowi. “Saya kemari mendukung Pak Jokowi”, jawabnya tenang sambil berbisik dengan Theo L Sambuaga yang duduk di sebelahnya.

Tidak banyak informasi yang bisa dikorek darinya. Ia hanya mengatupkan bibirnya dengan gerakan jari telunjuk menutup bibir saat didesak apa isi pembicaraannya dengan Presiden Jokowi.

Jika kedatangan Antasari Azhar adalah untuk mendukung Jokowi, tentu kehadirannya bukan waktu dan tempat yang tepat. Malam itu bukan acara debat pilpres. Malam itu adalah debat kandidat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Jadi rasanya musykil kalau Antasari tidak tahu malam itu debat gubernur bukan pilpres.

Tapi tunggu dulu. Bukankah sehari sebelumnya Antasari bertemu empat mata dengan Jokowi? Pesan apa yang diterima Antasari dari pertemuannya dengan Jokowi? Apakah Antasari mendapat pesan khusus sebagai the messenger? Pembawa pesan? Sang Utusan?

Kita tahu saat ini, perang dingin antara Jokowi dan SBY bukan lagi isapan jempol. Meski tidak ada deklarasi saling bermusuhan, namun publik sangat merasakan aroma dua grand master politik nasional ini sedang bertarung pake ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.

Keduanya memang tidak berhadapan langsung, namun para pendekar dilapangan pertempuran terlihat kasat mata sedang saling menyerang dan menangkis serangan.

Aksi 411 dengan tegas disebut Jokowi sebagai aksi yang ditunggangi aktor politik. Aksi 212 sebagai lanjutan aksi 411 digunakan sebagai alat untuk makar. Alat untuk mengkudeta Presiden Jokowi. 11 orang aktivis dicokok polisi, subuh menjelang aksi 212 berlangsung.


Cuitan nelangsa SBY beberapa hari lalu menjadi ekspresi kondisi sempoyongan sang grand master yang mulai tampak kedodoran pertahanannya. Para pendekar yang November lalu meninju langit seperti Rizieq Shihab malah sekarang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Rizieq sedang kena kunci dengan tuduhan pidana seperti penista Pancasila, penistaan agama Kristen, hate speech logo palu arit di uang kertas baru dan teranyar penyerobotan lahan negara di Bogor.

Sebelumnya 11 pendekar aliran makar seperti Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Syarwan Hamid, Rachmawati, Ahmad Dhani dll bahkan sudah kena cokok sebelum syahwat mengkudeta Presiden Jokowi terlaksana.

Ketum MUI Maruf Amin yang biasanya galak menyerang pemerintah kini tampak lebih lunak. Maruf Amin akhirnya sadar dengan blunder kekeliruannya yang bikin kebangsaan Indonesia semakin tercabik cabik dengan blunder fatwa MUI bikinannya.

Sementara itu Mpok Sylvi sedang dirundung sial. Polisi mendapat laporan warga tentang dugaan korupsi hibah bansos Pramuka dan dugaan korupsi pembangunan mesjid saat Mpok Sylvi menjabat Ketua Kwarda Pramuka dan Walikota Jakpus.

Polisi sedang menyelidiki keterlibatan Mpok Sylvi atas dua kasus ini. Ini sangat mengganggu konsentrasi AHY dan pendukungnya. AHY bahkan sempat sewot dengan langkah polisi yang memproses hukum laporan pengaduan masyarakat ini. AHY menyebut pemeriksaan polisi kental bernuansa politis.

Padahal AHY begitu getol mendesak polisi memproses hukum Ahok atas dugaan penistaan agama meski tuduhannya sangat lemah. AHY standar ganda. Tidak fair.

Akibat serangan balik yang memborbardir pertahanan SBY, SBY dengan terpaksa kirim cuitan konyol dengan melempar tudingan penguasa menjadi juru hoax. Kata SBY
“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*,”

Perang kedua grand master Jokowi dan SBY kini memasuki babak sudden death. Babak hidup atau mati. Tak ada lagi istilah gencatan senjata. Menyerah atau mati. Antasari Azhar adalah utusan Pendekar Tendangan Tanpa Bayangan itu. Sang Pendekar Jokowi.

Sebelumnya Antasari sudah wanti wanti SBY. “Saya justru minta bantu SBY. Kalau beliau ingin cuit-cuitan, bantu ungkap kasus saya. SBY bongkar kasus saya. Siapa pelaku sesungguhnya,” kata Antasari usai menghadiri HUT ke-70 Megawati Soekarnoputri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 23 Januari 2017.

Dalam cerita perang, sering kita mendengar panglima perang atau kepala negara mengirim utusannya ke negara musuh sebelum diluluh lantakkan. Utusan itu dikirim untuk menyampaikan pesan panglima perang atau kepala negaranya. Biasanya pesannya berisi meminta negara itu agar bersedia tunduk kepada pimpinan kepala negara si utusan. Jika menolak, akan ditaklukkan.

Malam itu, bertempat di Bidara Room, tempat berlangsungnya perebutan kekuasaan gubernur Jakarta, Antasari Azhar hadir sebagai pendukung Jokowi atau utusan khusus Jokowi. Memang Antasari tidak bertemu dengan SBY di sana. Tapi setidaknya anaknya AHY, menantu dan para punggawa SBY tahu ada Antasari Azhar sedang selfi dengan Ahok.

Pesan perang psikologi sedang dimainkan Jokowi dengan mengirim sang utusan di medan pertempuran Bidakara Hotel. Pesannya jelas sekali seperti teriakkan yang menggema kencang di dalam ruang itu. BONGKARRR !!! BONGKARRR !! BONKARR!!!

Pesan The Messenger itu adalah “Elu menyerah jangan macam macam lagi atau gue bongkar, biar rame sekalian”.
Jika sudah begini, akankah babak sudden death memakan korban lagi? Siapa korban selanjutnya? Apakah Pangeran Cikeas yang namanya santer disebut sebut Nazarudin, Anas Urbaningrum dan Alm. Soetan Bhatugana?

Duhhh…ngeri banget sih tendangan tanpa bayangan Pak De…

Salam
Birgaldo Sinaga

Doctor

MEDICAL BREAKTHROUGH

An Israeli doctor says: "In Israel, medicine is so advanced that we cut off a man's liver put them on another man, and in 6 weeks, he is looking for work."

The German doctor says: "That's nothing,
in Germany we take part of a brain, put it in another man, and in 4 weeks he is looking for work."

The Russian doctor says: "Gentlemen, we take half a heart from a man, put it in another's chest, and in 2 weeks he is looking for work."

The American   doctor laughs: "You all are behind us. About a week ago, we took a man with no brains, no heart, and no liver and made him President.

Now, the whole country is looking for work!" 

😝😝😜😜

DPR

Seorang ayah ingin mengetes  anaknya, dikamarnya ditaruh 3 benda :

1. Kitab Suci
2. Uang Rp.1 juta
3. Whiskey 1 botol.

Sementara ayahnya mengawasi lewat CCTV yg telah dipasang, 
sambil bergumam :"Bila anakku ambil kitab suci, ia akan jadi akhli agama. jika ambil uang itu ia akan jadi pengusaha, tapi kalo ambil whiskey berarti akan jadi preman".

Begitu si anak pulang & masuk kamar, ternyata si anak tadi mengambil kitab suci dikempit diketiaknya, lalu ambil uang yg Rp.1 juta dimasukkan ke dompetnya dan......... menenggak whiskey !

Tanpa sadar si ayah berseru :"yaa...Tuhan, ternyata anakku akan jadi anggota DPR."


😂😂😂🤑🤑🤑
🤣🤣🤣

Integrity

On January 20, immediately after Donald Trump’s inauguration, the Obama family moved to a rented apartment after spending eight years at the White House. The Obamas don't own a house till date. Also, Obama paid for groceries from toothpaste to toilet papers and dry cleaning from his own pocket. Even the family vacation was not free. Similarly, after the ceremony, Joe Biden, Obama’s deputy, carrying his own brief case, took the famous Amtrak Acela Express train to get back to his hometown Wilmington. Poor people! Aren’t they?

Incredible examples of personal integrity by two highest ranking office holders of the sole superpower; Biden held public office for 43 years following his first election to the Senate at 29. Nearly 35 years in the Senate and eight years as the Vice President yet he couldn’t afford to pay for the expensive cancer treatment of his son anymore. And who was the son? The Attorney General of his State of Delaware. He also had been an Iraq war veteran before becoming the Attorney General. But the cancer treatment ate up all his savings. Then came his father to the rescue. But even that was not enough. And just when he planned to offer his house for sale to mobilise funding for the son’s treatment, President Obama loaned him funds from his personal savings to prevent him from selling his home. Biden himself recounted this before a TV audience with tearful eyes. Unfortunately the son died but not after the father had given all his best.

Neither Obama nor Biden boast tonnes of money, multiple houses and fleet of cars, escorted by massive security after all these years at top posts. And with heads held high, they walk out of their official residences to rented homes and public transport.

Taufik

SESATMU BUKANLAH SESATKU…
(SEBUAH TANYA UNTUK TAUFIK ISMAIL)

DENGAN PUISI AKU
(Taufiq Ismail)

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Saat menghadiri acara silaturahmi Iluni Bangkit untuk Keadilan di Taman Lingkar Universitas Indonesia, Jumat, 27 Januari 2017 kemarin Taufik Ismail menyatakan penolakannya pada lirik lagu "Padamu Negeri" yang diputar.

"Saya bersama teman-teman menolak lagu ini (Padamu Negeri)," ujar Taufik. Saya tidak tahu siapa yang beliau maksud dengan ‘teman-teman’ di sini. Apakah ini berarti ada kelompok ‘Penolak Lagu Bagimu Negeri’  atau semacamnya?
Taufik Ismail menilai dua baris terakhir, yakni "bagimu negeri jiwa raga kami" sangat bermasalah. "Jiwa raga ini diberi karunia oleh Allah SWT, yang Maha Pencipta, dan jiwa ini kembali kepada Allah SWT, tidak pada yang lain," kata Taufik. Lirik "Padamu Negeri" terdengar patriotik. 

Namun dia menyebut lirik tersebut sesat. "Salah sekali (lirik yang itu), istilah ini musyrik," ucap Taufik. Dia lalu mengajak pada para tamu undangan yang hadir untuk tidak mendengar lagi lagu tersebut. "Sebaiknya kita koreksi dengan tidak usah mendengar lagu ini," kata Taufik.
Terus terang saja saya sampai melongo and terhenyak pada pernyataan beliau ini. 

Saya tidak pernah berpikir bahwa seorang sastrawan besar yang saya kagumi ini bisa menganggap lirik “bagimu negeri jiwa raga kami”  sebagai sebuah kalimat yang musyrik.  Bagaimana mungkin seorang sastrawan bisa begitu sempit memaknai sebuah lirik lagu dan kemudian menghakiminya sebagai sebuah kalimat pernyataan kemusyrikan? Kalau yang bicara ini santri yang baru belajar agama tentang ketauhidan maka saya mungkin hanya akan tertawa. 

Tapi ini Taufik Ismail, Sang Begawan Sastra, yang puisi-puisinya begitu indah dan mampu menggelorakan hati kita dengan kalimat-kalimatnya yang penuh majas yang indah…!

Pernyataannya di atas tersebut membuat saya jadi bertanya-tanya bagaimana ia ‘ bercinta dengan puisi’ dan ‘berdoa dengan puisi’ seperti puisinya di atas. Apakah benar bahwa selama ini ia ‘bercinta dengan puisi’ dan apalagi ‘berdoa dengan puisi’? Bolehkah saya menjadi naif sesekali dengan bertanya, “Apakah Pak Taufik Ismail selama ini tidak pernah diajari berdoa yang benar menurut ajaran Islam sehingga ia  terpaksa mesti ‘berdoa dengan puisi? Apakah kira-kira doa beliau selama ini bisa diterima oleh Tuhan kalau berdoa yang semestinya dengan permintaan yang khusyuk dan khidmat tapi beliau malah melakukannya dengan berpuisi?

Jika saya boleh bertanya pada beliau, pernahkah beliau sesekali dalam hidupnya minta tolong pada seseorang dalam bentuk apa saja? Pernahkah, umpamanya, beliau minta tolong diantar ke sesuatu tempat, minta tolong diketikkan naskah puisinya, minta tolong diingatkan kalau lupa, minta tolong dibelikan sesuatu, minta tolong dipinjami uang untuk suatu keperluan, dll? Saya yakin beliau sering minta tolong kepada sesama manusia.

Jika demikian, bolehkah saya mengingatkan beliau bahwa jika beliau minta tolong pada manusia maka sesungguhnya itu berpotensi musyrik dan sekaligus mengingkari janjinya setiap hari pada Tuhan. Bukankah beliau setiap hari berjanji pada Allah “HANYA kepadaMu kami memohon pertolongan (Wa iyyaka nasta in)” dan tidak kepada siapa pun? Bagaimana mungkin seseorang yang berjanji belasan kali dalam sehari ‘hanya akan memohon pertolongan pada Tuhan’ tapi dalam prakteknya dalam kehidupan sehari-harinya ternyata minta tolong juga pada manusia?
Sebagai penutup tulisan saya yang sedang gundah ini baiklah kita nikmati puisi beliau yang indah ini.

Mencatatkan Kerinduan
Kepada bimbo
Setelah 25 tahun
Lirik dituliskan

Sam, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada daun-daun pohon jati
Cil, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada nelayan laut sepi
Jaka, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada kata si rendah hati
In, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada penangkap ikan dan 25 nabi

Adalah sunyi sipres tua
Ada pula awan bulu domba
Adalah anak tak putus bertanaya
Ada pula serangga berkata-kata
Adalah merdu Daud burung-burungnya
Ada pula dedahanan berkosakata
Adalah tongkat nabi Musa
Ada pula eling ranggawarsita
Ada sakratulmaut di mana dia

Dari seribu kerinduan berapa kiranya
Yang dikau berikan
Dari sepuluh kerinduan
Manakah kerinduan
Yang bersangatan?

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Sabtu, 28 Januari 2017

Danau

Peran Istri bagi Suami

Suatu hari di danau buaya ada pertandingan, bagi siapa yg berani cemplung ke danau dan naik lg ke tepi danau akan mendptkan hadiah Rp.100.000.000,- 

Setelah ditunggu sekian lama tdk ada yg berani terjun. 

Akhirnya terdengar suara "byyyyuur" dan terlihat ada seorang laki-laki terjun ke danau kemudian dgn sekuat tenaga ia berenang menuju tepi danau dgn raut muka yg pucat krn dikejar buaya, dgn napas tersengal sengal, akhirnya sampai juga di tepi danau.

Pengunjung bersoraaaak...
panitia memberi salam kepadanya demikian pula diberikan hadiah Rp.100.000.000,- 
Tetapi dia dgn marah sekali berkata sambil setengah berteriak: "Saya mau tahu, siapa tadi yg sngaja mendorong sy ke danau?"

Setelah tengok ke belakang terlihat isterinya senyum senyum senang dpt uang 100 jt.

Benarlah kata pepatah.......:

*DI BELAKANG SUAMI YG SUKSES, AKAN ADA SEORANG ISTERI YG SELALU MENDORONGNYA.*😄😄😄...

Jgn senyum sendiri, ajak org lain share bila sekiranya orang lain akan senyum membacanya! Selamat Di Bulan Tua 😂😄

Memakan Anak

Manuver SBY Kini Memakan Anaknya Sendiri!


salah satu calon Gubernur Jakarta, yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni (Agus-Sylvi) kini justru tampak panik dan kewalahan di lap-lap terakhir.

Namun sebelumnya perlu ditegaskan, asumsi kepanikan dan kewalahan pasangan Agus-Sylvi ini dibuat di atas landasan dua survei mutakhir Indikator Politik Indonesia dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei Indikator Politik Indonesia 12-20 Januari 2017 menunjukkan, elektabilitas Agus-Sylvi kini tinggal 23,8%, Basuki-Djarot 38,2%, sementara Anies-Sandi malah nyaris menyamai Agus-Sylvi: 23,6%.

Sementara survei SMRC 14-22 Januari 2017 malah menempatkan pasangan Agus-Sylvi di posisi bontot: 22,5%. Basuki-Djarot kembali memimpin dengan 34,8%, sedangkan Anies-Sandi justru menyodok Agus-Sylvi dengan angka 26,4%.


Kenapa Agus-Sylvi Kini Melorot?

Yang kini menjadi pertanyaan, kenapa Agus-Sylvi yang sempat meroket pada bulan November dan Desember 2016 justru melorot di lap-lap terakhir balapan Pilkada ibu kota? Menurut penerawangan saya yang bisa saja salah, setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan Agus-Sylvi tampak loyo di lap-lap terakhir ini, bahkan mungkin saja disalip pasangan nomor urut tiga, Anies-Sandi.

Pertama, 

faktor manuver SBY alias Susilo Bambang Yudhoyono, pepo aka ayahanda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kita tahu, desakan-desakan SBY kepada Pemerintahan Jokowi-JK agar segera memperkarakan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok November lalu, kini justru menjadi bumerang bagi anaknya sendiri.

Menurut Peraturan Kapolri yang dikeluarkan sejak era Kapolri Jenderal (Pur) Badrodin Haiti, perkara-perkara hukum yang melibatkan calon-calon yang sedang berkompetisi dalam Pilkada mestinya harus ditunda sampai proses Pilkada selesai.

Aturan ini maha penting untuk menjaga kemaslahatan semua pihak yang sedang berkompetisi, dan demi menghindari kesan politisasi dan kriminalisasi. Peraturan ini juga sangat masuk akal karena Pilkada adalah momen yang sangat-sangat politis.

Lebih dari itu, aturan ini juga penting agar Pilkada dapat terselenggara secara sehat dan adil. Kompetisi seperti Pilkada ini semestinya juga menjunjung tinggi semangat fastabiqul khairat alias berkompetisi secara sehat dan adil.

Namun lewat pidato politiknya yang sangat emosional di Ciekas pada 4 November 2016, juga artikelnya di Rakyat Merdeka pada 28 November 2016, SBY justru menjadi sosok antagonis yang paling ngotot agar Ahok dikasuskan dan segera dimejahijaukan (istilahnya menuntut keadilan).

Manuver seperti ini, selain jelas-jelas mencederai sportivitas Pilkada Jakarta sejak malam pertama, kini juga terbukti berbalik memakan anak SBY sendiri.

Desakan SBY yang kadung melanggar aturan itu, justru memicu Kapolri Tito Karnivian untuk menginstruksikan agar mengusut semua kasus yang melibatkan pasangan calon kepala daerah tanpa kecuali dan tanpa pandang bulu.

Dan kita tahu, kini Agus-lah yang justru mengeluhkan pemeriksaan dugaan korupsi pembangunan Masjid al-Fauz dan dana bantuan sosial ke Kwarda DKI Jakarta yang sedang menimpa pasangannya, Sylviana Murni.

Menurut amatan saya, pemeriksaan dugaan korupsi Sylviana Murni ini jelas merupakan buah dari manuver pepo yang tidak cermat dan itu menjadi faktor penting yang menggerogoti elektabilitas anaknya sendiri.

Agus-Sylvi kini terkena karma pepo atau tulah sebuah hadis Nabi yang menegaskan bahwa "engkau akan menuai apa yang engkau tanam."

Pepatah kita punya kearifan hidup: siapa yang menebar angin, dia akan menuai badai!

Kedua, 

sedari awal, pesona terbesar pasangan Agus-Sylvi sepertinya ada pada janji-janji uang yang akan mereka taburkan kepada warga DKI lewat bantuan langsung sementara, bantukan bergulir per-RW, dan bantuan unit usaha.

Janji-janji ini mungkin saja sempat memabukkan sebagian warga kelas menengah ke bawah Jakarta yang masih merupakan mayoritas pemilih menurut survei LSI Denny JA. Namun seiring waktu, janji-janji itu justru tampak hampa dan bermasalah karena dua hal.

a) ternyata jumlah yang dijanjikan justru lebih kecil dari apa yang selama ini telah dinikmati sebagaian warga miskin Jakarta dari kebijakan pertahana. 
b) bantuan-bantuan tunai ala SBY itu justru dikhawatirkan akan menjadi lahan bancakan korupsi para elit di masa mendatang.

Ketiga, 

ajang-ajang debat kandidat yang selama ini dianggap tak penting oleh konsultan dan pasangan Agus-Sylvi, ternyata justru dianggap penting oleh warga DKI.

warga Jakarta menganggap debat sebagai sarana yang sangat penting untuk mengenal dan menguji kompetensi calon. Dan ternyata oh ternyata, 62% warga Jakarta menyaksikan debat pertama secara seksama.

Dan kini tersingkaplah sudah rahasia kenapa Agus-Sylvi selalu menghindari forum-forum debat selain yang diselenggarkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta.

Warga Jakarta kini tahu, walaupun lulusan pascasarjana cum laude dari universitas di Amerika, Agus tetap saja tampak masih hijau dalam kemampuan memahami dan menanggapi persoalan-persoalan Jakarta yang dilontarkan dan disodorkan kepadanya.

Mengamati dua debat resmi yang telah digelar KPUD, saya pribadi merasa bahwa Agus memang masih terlalu mentah, seperti belajar pidato. Pada dua ajang debat yang ia ikuti, Ia seperti  menyetorkan hapalan atau menuturkan-ulang apa yang didiktekan para mentor debat ke kepalanya.

Agus sama sekali tak punya kemampuan memahami persoalan lalu menanggapi dan menguraikannya secara mandiri dengan bahasa yang bisa dipahami. Bila muncul pertanyaan-pertanyan sulit, ehm, ia mau tak mau harus melirik dan menggamit Mpok Sylvi yang lebih mengerti persoalan.

kenapa Jakarta yang sedang bergeliat ini tampak seperti kian macet sejak dalam pikiran Mas Agus? Saya sangat prihatin!

Keempat, 

pasangan Agus-Sylvi juga tampak tidak memiliki identitas yang jelas. Bagi saya, pasangan yang kini justru menampilkan diri sebagai antitesis dari pertahana justru pasangan Anies-Sandi.

Pasangan nomor urut tiga ini kian berani mengambil posisi ekstrem demi melakukan diferensiasi dari pertahana yang masih cukup kokoh. Anies Baswedan berani mengunjungi Petamburan, Markas Front Pembela Islam (FPI), walau harus menanggung resiko dikecam dan diejek oleh kelas menengah Ibukota.

Anies juga rajin sowan ke beberapa tokoh yang dianggap mengantongi simpul-simpul suara Muslim konservatif seperti Ustad Arifin Ilham dan lain-lain. Ketika ada salat subuh dan tabligh politik di Masjid al-Azhar, Anies hadir sementara Agus gaib entah ke mana!

Saya rasa, inilah blunder lain kubu Agus-Sylvi yang mungkin luput diamati banyak pihak. Anda tak dapat menghancurkan Ahok sebagai sebuah tesis jika Anda sendiri tidak menampilkan diri sebagai antitesis dari Ahok. Di titik ini, strategi Anies-Sandi tampak mulai bertuah.

Anies cukup pintar untuk segera mengambil posisi yang tidak diambil Agus-Sylvi. Dan bisa dimaklumi pula, dari segi apa pun Anies memang punya reputasi keislaman yang lebih baik dari Agus untuk dielu-elukan sebagai Gubernur Muslim yang akan mampu mengalahkan Ahok.

Kejutan di Lap Terakhir

Apa boleh buat, aura kompetisi Pilkada Jakarta memang telah tercederai sedari awal. Tepatnya sejak pidato agitatif SBY di Cikeas dan tulisannya yang provokatif saat mendesak pemerintahan Jokowi agar segera memperkarakan salah satu pasangan dengan tuduhan penistaan agama.

Walau Peraturan Kapolri menegaskan perkara seperti ini mestinya harus ditunda setelah selesainya proses Pilkada, namun demi anak, sang pepo tetap saja bermanuver seperti hendak mencurangi lawan anaknya.

Kini, manuver-manuver yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi itu justru berbalik memakan anaknya sendiri. Bagi mereka yang percaya karma, merosotnya elektabilitas Agus-Sylvi di dua pekan terakhir ini menunjukkan bahwa karma itu kini sedang bekerja.

Namun bagi saya, ini boleh jadi merupakan refleksi dari pemilih Jakarta yang mulai siuman dan cukup rasional dalam menilai kualitas pemimpin yang akan melayani mereka.

Manuver-manuver SBY sejauh ini tampak justru mempersulit langkah anaknya. Sementara manuver-manuver Anies-Sandi terlihat mulai membuahkan hasil.

Kita masih menunggu kejutan-kejutan apa yang akan diperagakan ketiga pasangan calon di lap-lap terakhir balapan ini. Saya berharap, Pilkada ini akan kian mengasyikkan dan mampu menyuguhkan tontotan yang amboi dan aduhai—!

Jakarta, 28 Januari 2017
Novriantoni Kahar
Sumber: lensaremaja.com

Patrialis

SIALNYA PATRIALIS AKBAR

Patrialis akbar memang sial..

Ia pasti tidak menduga akan tertangkap tangan dalam operasi KPK. Dikabarkan ia menerima suap supaya perkara uji materi tentang peternakan dikabulkan.

Padahal ia sudah membungkus dirinya se-relijius mungkin supaya perbuatan dibelakang layarnya tidak ketahuan.

Tapi ada sebuah teori lain yang beredar dari semak belukar. Bisikan para kodok, kampret sampe jangkrik yang bergosip di malam yang dingin..

Sebenarnya sejak lama Patrialis Akbar diincar karena ia akan sulit berlaku adil jika terjadi sengketa pilgub DKI nanti.

Sudah diketahui bersama bahwa Patrialis Akbar tidak menyukai Ahok. Dalam beberapa statemennya ia berbicara tentang menolak kepemimpinan non muslim dan itu tentu diarahkan kepada Ahok.

Ini berbahaya, apalagi juga Patrialis Akbar pernah sangat dekat dengan SBY. Ia mantan Menteri Hukum dan HAM pada era SBY, bahkan terpilih tanpa fit dan proper test.

Salah satu agenda dalam pilkada DKI nanti akan diarahkan pada sengketa jika paslon Demokrat kalah. Dan ketika masuk ke wilayah sengketa, maka disana Patrialis Akbar akan bermain.

Mirip ketika Akil Mohtar bermain dalam sengketa pilkada Buton...

Karena itu, PA diincar sejak dini kelemahannya. Bahkan ada yang berkata bahwa ia sebenarnya dijebak diundang keluar kandang dengan tawaran yang tidak bisa ia tolak. Dan kita tahu, akhirnya PA tertangkap tangan dengan 10 orang lainnya dengan bukti2 uang suap bersama mereka.

Demokrat sendiri langsung membantah kalau PA dikaitkan dengan mereka. "Tidak relevan.." Kata Syarif Hasan Ketum Partai Demokrat.

Jika kabar itu benar, maka pertarungan Pilgub DKI ini jadi ajang bersih2 dan menahan langkah Demokrat yang berusaha memenangkan pertarungan dengan cara kasar. Kasus Sylvi juga kabarnya adalah permainan. Ikut kata teman saya yang sekarang agak kearab2an, "Wallahu alam bissawab.." Hanya Tuhan yang tahu benar tidaknya.

Pilgub DKI ini ibarat sepakbola, seperti Liga Inggris yang keras. Jurus tackle menackle-nya kuat dan itu juga yang membuat pertarungan menjadi menarik. Karena kepentingan Pilgub DKI ini berhubungan langsung dengan Pilpres 2019. Siapa yang kuasai Jakarta, dia yang akan kuasai permainan...

Ah, benar tidaknya tetap saja gampang menjebak para pecinta uang..

Mau jenggotnya emas kek, jidatnya legam guligam kek, kalo dipancing uang lidahnya menjulur2 seperti herder kehausan.

Patrialis Akbar memang sedang sial. Mana ketangkepnya di hotel esek2 lagi, entah kenapa transaksi dilakukan disana..

Mungkin ingin mencoba bagaimana rasanya esek2 bersyariah...

Seruput..

www.dennysiregar.com

Kamis, 26 Januari 2017

Bekas

PRESIDEN BEKAS VS BEKAS PRESIDEN

Ketika Soeharto jatuh, digantikan Habibie, dia memilih bertapa di rumahnya. Seolah dia lepas dari hinggar bingar politik dan sibuk menghabiskan hari tuanya. Tidak terdengar satupun statemen yang mengkritik pemerintahan Habibie.  

Begitupun saat laporan pertanggungjawaban Habibie ditolak MPR, dan dia gagal maju lagi menjadi presiden. Lelaki ahli pesawat terbang itu memilih menjadi pandito. Tidak pernah terdengar omongan Habibie yang bernada menyerang pemerintahan Gus Dur. Padahal waktu itu poitik memang tidak berpihak kepadanya. Tapi toh, Habibie ikhlas. 

Lalu Gus Dur dijatuhkan di tengah jalan, Megawati naik ke puncak pemerintahan. Adakah Gus Dur ngambek? Gak juga. Bagi Gus Dur tidak ada kekuasaan yang pantas dipertahankan dengan pertumpahan darah. Makanya Gus Dur menghalangi pengikutnya yang mau mengeruduk Jakarta. Dia rela melepaskan kursi kekuasaan ketimbang melihat Indonesia berdarah-darah. 

Diakhir periode Megawati, sistem pemilu Indonesia berubah. Kali ini rakyat berhak memilih langsung Presidennya. SBY tampil menjadi kandidat dan mendapat suara rakyat. Megawati harus tersingkir. Ketua PDIP itu secara pribadi tidak melakukan serangan terbuka kepada pemerintahan SBY. 

PDIP memang memposisikan diri sebagai partai oposisi. Tapi fungsi itu lebih banyak diambil oleh kader-kader PDIP di parlemen. Sementara Megawati sendiri lebih fokus membangun kekuatan partai. 

Itulah etika seorang bekas presiden. Sebab sesungguhnya apa yang terjadi pada pemerintahan sekarang adalah kelanjutan hasil kerja dari pemerintahan sebelumnya. Alangkah anehnya jika bekas presiden ikut cerewet dengan pemerintahan yang sekarang.

Rakyat mesti berterimakasih pada orang-orang besar itu, yang berjiwa besar dan tidak ngambekan. Pergantian kekuasaan, meskipun didahului dengan gonjang ganjing politik, tetapi selalu berlangsung mulus. Orang yang pernah duduk di kursi Presidenpun seolah bersikap tut wuri handayani, mendorong dari belakang.

Sikap ini menjadi semacam etika umum. Lihat saja Clinton yang diam ketika George W. Bush berkuasa. Atau Bush yang juga tidak lagi sibuk cawe-cawe ketika Obama duduk di Gedung Putih. Meskipun kebijakan Obama banyak yang berlawanan dengan kebijakan Bush dulu.

Sementara kini, kita melihat ada seorang mantan presiden yang baperan. Mungkin juga bisa masuk kategori cerewet. Apalagi ketika anaknya sekarang sedang ikut bertanding dalam Pilkada DKI Jakarta. Dia gemar mengungkapkan perasaannya lewat medsos layaknya anak alay.

Curhat itu semakin terasa, biasanya ketika Presiden yang sekarang dijabat Jokowi mengundang orang-orang besar untuk bertukar fikiran tentang kondisi Indonesia. Waktu Jokowi bertemu Prabowo dan fotonya di atas kuda beredar, dia nyinyir memperkenalkan istilah lebaran kuda. Memang sih, komentar itu menanggapi kasus Ahok. Tapi lebaran kudanya, itu loh. Kini saat Jokowi mengundang Habibie dan Tri Sutrisno, dia kembali curcol. Kali ini dia mengeluh pada Tuhan via twiter seolah akun miliknya sudah difollow Tuhan. 

Kita jadi tahu, ada bekas presiden, ada juga presiden bekas. Bekas presiden biasanya mampu bersikap kalem. Berbeda dengan Presiden bekas : sikapnya selalu baperan.

www.ekokuntadhi.com