Sabtu, 22 Juli 2017

Gantungan Kunci

Pada suatu hari Ahong, seorang pedagang cabe, duduk seorang diri di sebuah bar.

Ga lama kemudian, Bagol, temannya, masuk ke kafe sambil memeluk 5 cewek yg cantik2, dan mereka langsung duduk. Gayanya seperti bos raja minyak, ketawa cekikikan sambil bolak-balik cipika-cipiki, bikin panas hati…! Padahal jualan tahu di sebelah lapaknya.

Ahong mikir, “Kapan nasib gw kayak si Bagol? 
boro2 lima cewek, satupun gw ga punya !”

Besoknya Ahong minta nasehatnya,

"Gol, gimana sih caranya lu bisa ngegaet 5 cewek yg cantik2 gitu..?”

Bagol : “Jgn cerita ke sapa2 yah..! 
Ntar gw kasih tau rahasianya. Sini gw bisikin…,  
kalo lu datang ke bar lagi, sebelum duduk, lemparin gantungan kunci mobil ke meja bar, 
pasti cewek2 ngedatangin lu…!”

Ahong : “Tapi gw ga punya mobil, cuman punya motor butut yg knalpotnya suka copot itu..!”

Bagol : “Lu mah cuman perlu gantungan kunci mobil aja....! Ni.. U lihat.. gw punya gantungan kunci Jaguar.. cuman ini aja modalnya….!”

Besok malamnya, Ahong sambil petantang- petenteng, masuk ke bar.. Bagol sudah ada di bar, duduk bareng 3 cewek yg cantik2…

Ahong langsung ke bar sambil ngelemparin gantungan kunci FERRARI ke meja bar… 
namun, ga ada reaksi dari cewek2 disana sedikitpun…!

Kunci diambil lagi terus dikantongin.. lagi- lagi tidak ada cewek gubris.. kunci dilemparin lagi ke meja bar.., ga ada reaksi, malahan diketawain habis2an…!

Bagol yg dari tadi merhatiin kelakuan Ahong, langsung ngedeketin.. 
Sambil berbisik: 

"LU GIMANA SIH….????
BUKA DULU HELM-NYA BEGO...!"

HAHAHA..πŸ˜†ΠuΓ₯Π½Γ₯🀣НΓ₯Π½Γ₯πŸ’₯ΒΊ°˚˚°

Numb

dia mati diantar Chester Bennington
diiringi Numb,

"I'm tired of being what you want me to be
Feeling so faithless, lost under the surface
Don't know what you're expecting of me
Put under the pressure of walking in your shoes
Every step that I take is another mistake to you

I've become so numb, 
Become so tired"

seorang ibu sudah menunggu beberapa tahun sebelumnya
dengan baju perawat
di depan pintu akhirat

"lama menantikan momen ini,
apakah kau mati bunuh diri juga?"

tidak, kami mati kebetulan berbarengan harinya
kalau tau begini, kami akan janjian dulu jamnya

Chester kemudian tiba dengan baju abu-abu berlengan pendek
terlihat tattoo tengkorak tersembul pada siku
dia memperbaiki letak kaca matanya
agak pangling melihat ibunya
mereka berpelukan

dia kecewa
tak ada yg menyambutnya seperti Chester
"I am so numb", keluhnya

"aku masih punya sisa anastesi, 
akan ku suntikkan untukmu",
ibu Chester menjawilnya dengan ramah



Intoleransi

Intoleransi dan Kecemasan Reza Rahadian



Pengalaman adalah guru terbaik. Adagium ini selalu tepat dalam menggambarkan bagaimana belajar dari pengalaman itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Lebih khusus pengalaman ini hadir tidak hanya saat orang itu tumbuh melalui interaksi melainkan pergulatan internal yang dialami terus-menerus dan adanya momentum yang hadir dalam peristiwa yang dialami.

Pergumulan internal mengenai praktik beragama inilah yang dialami oleh Reza Rahadian, aktor kondang yang memainkan sejumlah film laris di Indonesia. Tumbuh dan besar dalam pola pengasuhan orangtua berbeda agama, Reza Rahadian memilih untuk memeluk Islam seperti ayahnya sejak kecil, yaitu Islam. Sementara itu, sang ibu tetap beragama Nasrani.

Kondisi ini yang membuatnya mengerti lebih jauh apa itu toleransi dan bagaimana proses menghargai agama lain itu wajib untuk dipraktikkan. Meskipun itu awalnya harus dilalui tidak mudah. Misalnya, saat Ramadhan tiba, ia harus sahur sendiri dan berpuasa sendiri di tengah keluarga ibunya yang berbeda. Namun, nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh ibunya ini membuatnya mengerti mengenai wajah Islam seperti apa yang mesti dipraktikkan dan bayangkan di tengah kehidupan keluarganya sebagai laboratorium mengenal toleransi sesungguhnya.

Dengan kata lain, toleransi dan mengasihi sesama menjadi bagian dari praktik kebudayaan dari sosok Reza dan banyak Reza lainnya. Ya, karena keluarga yang menikah beda agama ini sudah ada sejak lama di Indonesia dan sejak tahun 1970-1990-an hal semacam ini, khususnya di wilayah pedesaan Jawa, merupakan suatu hal yang biasa.



Dalam satu keluarga, kita bisa melihat ada yang beragama Muslim, Katolik, dan Protestan ataupun agama lainnya. Selain lebih mementingkan ikatan tali persaudaraan, faktor budaya Jawa sinkretik sebagai falsafah hidup jauh lebih kuat ketimbang agama dalam mempengaruhi kehidupan seseorang.

Karena itu, temuan Clifford Geertz di Mojokuto mengenai praktik keagamaan orang Jawa tidak melihat kategori keislaman seseorang, apakah ia Muhammadiyah, NU, Persis, Salafi, atau Wahabi, melainkan lebih pada politik aliran dan kepercayaan dalam kosmologi Jawa dengan membaginya menjadi tiga kategori: santri-abangan-priyayi.

Memang, ada banyak kritik mengenai temuan Geertz tersebut. Namun peta kebudayaan dan kategorisasi ini membantu para peneliti selanjutnya dalam memahami hubungan Islam dan kebudayaan Jawa hingga praktik kekuasaan dalam bernegara di Indonesia, khususnya di bawah rezim Orde Baru.

Adanya mobilisasi massa dengan menggunakan sentimen agama dan etnik untuk mempengaruhi pilihan publik Jakarta dalam Pilkada DKI Jakarta tempo hari telah merusak toleransi yang tumbuh dan mendarah daging di Indonesia. Di sini, para predator politik memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan lawan politiknya dengan cara brutal, merusak “tenun kebangsaan”.

Akibatnya, ungkapan kata kafir dan makian kepada orang yang beragama lain menjadi begitu mudah dikeluarkan. Makian kasar dan ungkapan kata kafir itu seolah-olah menguatkan keimanan dan kebenaran yang dipegang di tengah kerapuhan cara beragama yang seharusnya memberikan kedamaian.

Tindakan intoleransi ini, bagi Reza, sangat mencemaskan tidak hanya untuk dirinya melainkan untuk publik Indonesia. Apalagi, kata Reza, intoleransi ini “berbahaya bagi kehidupan beragama dan berbangsa”. Karena itu, baginya, pembahasan mengenai Pancasila menjadi diskursus kebangsaan di tengah persoalan tersebut memiliki alasan yang penting.

Ucapan ini Reza tegaskan saat menjadi pembicara dalam acara “Diaspora Indonesia” pada 1 Juli 2017 bersama Anies Baswedan dan Shamsi Ali, yang diselenggarakan di Jakarta. Selain merupakan keberanian, ucapan di publik tersebut merupakan kejujuran dari kegelisahannya mengenai imajinasi Indonesia ke depan.


Sebaliknya, sikap jujur mengenai tindakan intoleransi yang terjadi saat kampanye Pilkada DKI Jakarta justru tidak diungkapkan dan diakui oleh Anies Baswedan, Gubernur terpilih DKI Jakarta, yang mempopulerkan tenun kebangsaan, dan lulusan doktor bidang politik dari Amerika Serikat saat satu forum dengan Reza tersebut.


Ia bahkan menganggap bahwa tindakan intoleransi itu merupakan fenomena yang terjadi di dunia, bukan hanya di Indonesia. Lebih khusus, tindakan intoleransi itu semata-mata hanya terjadi di dunia maya. Sementara dalam realitasnya itu tidak terjadi apa-apa.

Bahkan, dalam kesempatan berbeda, saat bertemu dengan Obama, Anies menganggap tindakan intoleransi itu semata-mata bukan tidak terjadinya penghargaan dan penghormatan antara satu sama lain, melainkan juga terjadinya ketimpangan. Dengan kata lain, menguatkan toleransi, bagi Anies, harus juga menguatkan kesetaraan (Kompas.com, 2 Juli 2017).

Namun, di sini, ada satu hal yang luput dari ucapan Anies tersebut. Di atas kertas ucapan itu sangat menarik dan manis untuk didengarkan. Secara praktik di lapangan, apa yang diucapkan justru bagian dari seleksi tindakan dan ingatan.

Sebagaimana diketahui, selain melakukan kampanye menyuarakan kebencian di masjid-masjid Jakarta untuk mempengaruhi publik tindak memilih Ahok dengan menggunakan sentimen agama, Anies dan tim pemenangannya mendekatkan diri kepada kelompok-kelompok yang justru kerap melakukan tindakan intoleransi. Mobilisasi massa untuk melakukan ujaran kebencian dengan memanfaatkan ruang publik yang memperburuk wajah intoleransi di tengah konservatisme agama yang semakin menguat.

Dengan demikian, dari kedua sosok tersebut, ada satu hal yang saya dapatkan pelajaran mengenai intoleransi. Meskipun seorang aktor dan memainkan pelbagai peran pura-pura, baik antagonis dan protagonis, Reza menunjukkan kejujuran dan kegelisahan sebagai individu bagian dari warga Indonesia mengenai tindakan intoleransi yang terjadi akhir-akhir ini. Dampak intoleransi tersebut tidak hanya berbahaya untuk keluarganya, melainkan juga bangsa Indonesia secara luas.

Di pojok lain, meski lulusan doktor ilmu politik Amerika Serikat, mantan Rektor Paramadina (institusi pendidikan tinggi warisan pengetahuan Islam moderat, dikembangkan Nurcholish Majid), dan sosok yang mempopulerkan tenun kebangsaan, Anies Baswedan menunjukkan kapasitas dan kemampuannya sebagai seorang aktor yang bisa berpura-pura menunjukkan kepada publik bahwa semua baik-baik saja.

Di tengah itu, ia mengajarkan secara retoris bagaimana mempraktikkan toleransi yang benar di Indonesia.


Wahyudi Akmaliah - 
Monday, 10 July 2017
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Gagal Dikte

Jokowi Gagal Didikte, Novanto Tersangka, HTI Dibubarkan

Kunci keberanian KPK menetapkan Novanto sebagai tersangka kasus E-KTP adalah Jokowi. Mengapa? Jika Jokowi mengirim sinyal ‘tahan’ sedikit saja, maka nyali KPK menetapkan orang ‘besar’ sekuat Novanto, surut ke bawah celana. Pengalaman traumatis saat KPK diibaratkan cicak vs buaya, menjadi pil pahit bagi KPK.

Lobi-lobi Novanto agar Jokowi mengintervensi KPK demi menyelamatkannya, gagal total. Jokowi sama sekali tidak bisa didikte, dipengaruhi ataupun dipancing kesetiakawannya. Jokowi tetap berkepala batu. Ia terus melempar pernyataan agar KPK jangan pernah dilemahkan atau dirongrong. Itulah sinyal yang menguatkan KPK.

Terlihat ada dua siasat Novanto untuk menjebak Jokowi. Pertama , lewat lobi-lobi politik dengan mendukung penuh Jokowi sebagai Capres 2019. Novanto mengejutkan publik ketika sesaat setelah ia memenangi pertarungan di Golkar, langsung menyatakan dukungan kepada Jokowi sebagai capres 2019. Lewat dukungan menjebak itu, Novanto ingin menundukkan Jokowi.

Gerak manufer Novanto ini bisa dimengerti. Sebelum menjadi ketua DPR, Novanto sebetulnya sudah diincar KPK sebagai maling besar dalam proyek E-KTP. Namun saat itu KPK masih mengumpulkan bukti-bukti. Ketika KPK sudah siap menjeratnya, Novanto keburu menjadi ketua DPR sekaligus ketua Golkar. Novanto yang cerdas, langsung menyatakan dukungan penuh kepada Jokowi. Maka KPK pun hati-hati sekali membidik Novanto.

Jokowi yang paham permainan licik Novanto, ingat kasus papa minta saham. Ia tidak terkesima oleh dukungan itu. Apalagi bukti dukungan Golkar Novanto ternyata hanya di mulut. Itu terlihat pada Pilkada DKI lalu dimana Golkar hanya berkoak-koak mendukung Ahok namun tidak terjun ke lapangan. Jokowi tetap tidak mau mengintervensi KPK dan tetap membiarkan proses hukum kepada Novanto.

Kedua, ketika siasat pertama gagal, Novanto kemudian bermanufer dengan siasat pembubaran KPK sekaligus mengancam Jokowi. Ia memakai jasa Fahri Hamzah  yang tak punya malu untuk membentuk Pansus hak angket KPK. Dengan Pansus hak angket, maka Novanto punya senjata untuk membubarkan KPK sekaligus menggertak Jokowi dengan sinyal ‘pelengseran’. Tetapi apa yang terjadi?

Dengan adanya Pansus, Novanto mengharapkan KPK mundur. Jika KPK mundur membidik dirinya, maka Pansus juga akan mundur. Jadi istilahnya win-win solution alias penyelesaian secara adat. Namun KPK tidak juga takut dan malah semakin berani menolak maunya DPR. Apalagi tim Pansus semakin linglung ketika mengumpulkan bukti kelemahan KPK dari para koruptor di penjara.

Jokowi juga tidak takut didikte oleh Pansus dan sama sekali tidak mengirim sinyal ‘tahan’ kepada KPK. Akibatnya KPK semakin lama semakin di atas angin. Bukti-bukti valid yang menjerat Novanto dikumpulkan dan perkaranya digelar pada tanggal 21 Juni 2017 atau empat hari sebelum lebaran.

Dalam gelar yang sangat spesial itu, semua unsur KPK mulai dari deputi penindakan, penyelidik, penyidik, direktur, deputi hingga lima pimpinan KPK hadir. “Semuanya hadir, pimpinan juga lengkap hadir semua‘’, kata sumber internal KPK di Jakarta, Senin (17/7/2017).

Perdebatan tentang status Novanto pun sangat alot. Namun pada akhirnya diputuskan status hukum Novanto sebagai tersangka. Artinya sebelum lebaran Novanto sudah menjadi tersangka. Namun KPK tidak terburu-buru mengumumkannya kepada publik. Hal itu untuk melihat perkembangan. Karena KPK terus berhitung melihat prediksi manufer Novanto lewat praperadilan nantinya.

Setelah 26 hari pasca gelar perkara Novanto, akhirnya KPK mengumumkan Setya Novanto sebagai tersangka. Penetapan Novanto sebagai tersangka KPK adalah uji nyali paling mendebarkan KPK. Langkah itu diambil ketika siasat Novanto gagal mendikte Jokowi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah republik ini, ketua DPR ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Amat memalukan.

Ketika Novanto tersangka, Jokowi pun bergerak cepat. Ketika publik masih terbelalak dan DPR melongo ketakutan, hari ini Rabu, 19 Juli 2017 lewat Kementerian Hukum dan HAM, Jokowi mencabut status hukum HTI. Dengan pencabutan itu, maka HTI secara resmi dibubarkan dan dilarang di Indonesia. Langkah itu adalah langkah kejutan susulan.

Dengan pecabutan status hukum itu, maka HTI secara resmi dinyatakan tamat di bumi Indonesia. Jika ada pihak yang mendukung HTI dan memenangkan gugatan mereka di pengadilan, maka mudah bagi pemerintah memetakan siapa-siapa pihak di belakangnya ke depannya.

Langkah Jokowi membubarkan HTI hanya beberapa hari setelah dikeluarkannya Perpu adalah strategi cepat membungkam Yusril, Fahri Hamzah, Fadli Zon yang terus membela Pansus sekaligus nyinyir atas Perpu. Itu adalah genderang perang yang all-out dikobarkan Jokowi untuk terus memukul para ular beludak pengkhianat NKRI.

Maka lewat pembubaran HTI hari ini, Jokowi kini telah membuktikan ketegasannya kepada para lawannya. Ia sekaligus mengirim sinyal perang kepada siapapun yang menentang Pancasila, akan digebuk habis-habisan. Begitulah kura-kura.

Salam Seword

*******

ASAARO LAHAGU

_______

Guru & Polisi

MALAS SEKOLAH

Guru  : "Ahong, kenapa kamu seperti melamun..?"
Ahong  : "Ibu saya di Rumah Sakit, Bapak saya di kantor Polisi."

Guru  : "Ya sudah, sekarang kamu pulang saja."
Ahong : "Ya Bu terima kasih, saya mau pulang."

Guru  : "Hati-hati ya.. kamu harus sabar."

Setelah Ahong pulang, guru nanya kepada murid-murid yang lain,

"Ada kejadian apa yang menyebabkan orang tua Ahong yang satu masuk Rumah Sakit, yang satu masuk kantor Polisi..?"

Murid2 : "Ibunya Ahong dokter Bu Guru, sedangkan bapaknya kan Polisi.."

Guru  : "PANGGIL LAGI si KAMPRET Ahong ......!!!"

πŸ˜œπŸ˜πŸ˜„πŸ˜†

Kamis, 20 Juli 2017

Buatan China

Seorang lelaki dari China dan seorang perempuan dari Afrika menikah. 

Setahun kemudian mereka dikaruniakan seorang anak dengan wajah campuran yang baik dan sempurna. Tapi sayangnya dua bulan kemudian anak itu meninggal..😭😭 

Dengan penuh kesedihan dan tangisan dalam penguburan, perempuan Afrika itu histeris.... menepuk-nepuk dada dan berkata,

"saya tahu kenapa..!..saya tahu kenapa.!"

Dan Seorang dari kalangan keluarganya yang juga seorang polisi bertanya,

"Apa yang kau tahu..?? kasih tahu dan saya pasti menyelidiki....!!"

Sambil terisak-isak dengan ingus yang meleleh si wanita dari Afrika menjawab.....

"buatan China memang tidak tahan lama"

.πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸƒπŸ»πŸƒπŸ»πŸƒπŸ»πŸ™

Studi Banding

ANGGOTA DPR BANYAK DI SORGA

Ada seorang yang hidupnya sangat jujur. Dia meninggal dunia, lalu masuk SORGA.
Di sorga dia heran, karena banyak anggota DPR yang dia kenal ada di sana.
Hatinya heran.

"Kok banyak bener anggota DPR bisa masuk sorga yaa ...!? Bagaimana mungkin ...!?"

Saking penasaran, dia bertanya pada malaikat;

"Wahai malaikat,  mengapa banyak anggota DPR ada di sini. Apa saja amal baik yang menjadikan mereka bisa masuk surga ...!?"

Malaikat menjawab: "Ooouh ... mereka lagi STUDI BANDING di sini. Besok pagi juga mereka  balik lagi ke neraka..."

πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜πŸ˜

Rabu, 19 Juli 2017

Pohon

BELAJAR DARI POHON

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.

Untuk hidup / tumbuh, pohon memperoleh makanan dari tanah. 
Semakin dalam akarnya, makin banyak nutrisi yang diserap.

Ini mengajarkan untuk kita lebih dekat  dengan Tuhan sebagai Sumber Kehidupan, semakin mendalam , m a k a kita akan semakin kuat

2. Pohon TIDAK MARAH/TERSINGGUNG ketika buahnya dipetik orang.

Kadang hati kecil kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. 
Inilah prinsip memberi.

Kita bekerja bukan untuk hidup saja , t e t a p i untuk memberi buah.

Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang memerlukan, b u k a n demi diri sendiri.

3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan banyak biji2 yang dapat menjadi pohon2 berikutnya,sehingga akhirnya dapat mengeluarkan buah2 yang segar.

Ini mengingatkan agar hidup kita dapat memberi dampak positif terhadap orang lain.

Bila kita dipercaya menjadi seorang pemimpin..itu bukan masalah posisi/ jabatan dan untuk memperkaya atau mempertuan diri, t e t a p i mengenai pengaruh dan inspirasi yang bisa diberikan kepada orang lain.

Semoga kita semua bisa menjadi Pohon yang Bermanfaat !

God Bless You

Kapolri Tito

sepakat dengan apa yang disampaikan KAPOLRI:

Saat saya bersama istri saya adalah suami. Saat saya bersama anak anak saya, saya adalah ayah. Saat saya bertugas mengenakan baju POLRI saya adalah polisi.

Saat saya sedang berkendaraan saya adalah pengemudi.

Jika saya sedang berkendaraan kemudian melanggar aturan dan rambu rambu lalu lintas maka saya melakukan kesalahan dan saya berhak ditilang /dikenakan sanksi oleh polisi yang sedang bertugas.

Meskipun saya dalam kepolisan adalah KAPOLRI jika saya melanggar kemudian mendapat tilang /hukuman karena melanggar aturan /rambu rambu lalu lintas maka saya tidak boleh mengatakan bahwa KAPOLRI diKRIMINALISASI oleh petugas yang menilang /menghukum saya.

Nah yang guru juga mestinya berprinsip gitu.

jika bersama dengan istri statusnya suami, jika bersama dengan anak anak nya ayah.

jika bersama dengan murid-muridnya guru.

NAH jika melakukan kekerasan atau kejahatan saat tugas atau diluar tugas tetap ia wajib di laporkan/dihukum

saat dihukum/dilaporkan atas kejahatannya jangan lantas ia atau para pendukung nya bilang GURU DI KRIMINALISASI.

Begitu Juga Dokter:

Bila dirumah bersama Istri statusnya Suami
Bila bersama anak statusnya Ayah
Bila di Rumah sakit bersama Pasien status Dokter,

Bila melakukan kekerasan atau Mal Praktek wajib di laporkan dan di Proses secara Hukum, maka di situ jangan ada kata Kriminalisasi Dokter atau Petugas Kesehatan.

Begitu Juga Sama seperti Halnya Profesi yang lain, Termasuk ULAMA...... Apa Lagi DPR...... Maka Bila Melakukan Pelangaran Di Luar Koridor Fungsi Jabatan Serta Kedudukannya_

Seberapapun Tingkatan Derajatnya Harus taat dan Patuh Pada Proses Hukum yang Berlaku di Negara.......!!!!

Jangan Merasa diKriminalisasi Bila terbukti Bersalah dan Melangar Hukum.

Kriminal itu Jelas Perbuatannya. tolong sebarkan, agar masyarakat pintar.

Prangko

Sebagai penghargaan atas dedikasinya menjadi anggota DPR paling kritis, Kantor Pos menciptakan Prangko seri duet Fahri Hamzah dan Fadli Zon. 

Tapi setelah peluncurannya, prangko duo sobat ini tidak dapat nempel di surat. Hal ini menimbulkan kemarahan Fahri dan Fadli. Mereka menuduh Kantor Pos sengaja mensabotase seri perangko ini. Atas kejadian ini, mereka mengusulkan Hak Angket bagi Kantor Pos.

Setelah Hak Angket berhasil mereka galang dan menghabiskan biaya 5 milyar rupiah, Panitia Hak Angket mengumumkan hasil temuannya.
Perangko yang telah dicetak oleh Kantor Pos untuk menghargai Fahri dan Fadli dibuat dengan sempurna. Lem nya juga sangat baik.

Ternyata mengapa perangko2 tersebut tidak menempel dengan baik, karena orang-orang meludahinya pada sisi yang salah. 

Selamat Siang ☺☺

Siswi Berjilbab

Ketua DPRD Yogyakarta: Imbauan Siswi Berjilbab di Sekolah Negeri Tak Tepat


Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Yogyakarta, Sujanarko menyebut imbauan sejumlah sekolah menengah pertama negeri agar siswi beragama Islam mengenakan jilbab pada penerimaan siswi baru tidak tepat. 

Alasannya sekolah negeri selama ini menjadi percontohan nilai-nilai keberagaman dan toleransi. “Imbauan agar siswi muslim mengenakan jilbab menandakan ada pemilahan-pemilahan, yang tidak sesuai dengan semangat keberagaman,” kata Sujanarko ketika dihubungi, Selasa, 18 Juli 2017. 

Di Yogyakarta, kata Sujanarko selama ini kerap terdengar informasi bahwa sejumlah sekolah negeri mewajibkan siswi muslim mengenakan jilbab. Kewajiban mengenakan jilbab, kata Sujanarko tidak terlepas dari pandangan, sikap, dan kebijakan dari kepala sekolah. “Sekolah-sekolah negeri seharusnya memegang prinsip-prinsip keberagaman, toleransi, dan menjunjung nasionalisme,” kata Sujanarko. 

Ia menuding Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta membiarkan situasi itu. Menurutnya, bila tidak segera diatasi, maka berbahaya bagi usaha mempertahankan nilai-nilai keberagaman di sekolah. Sujanarko meminta Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X segera bersikap sebelum situasi yang keluar dari prinsip keberagaman di Yogyakarta menjadi lebih parah. 

Di Yogyakarta beredar surat pengumuman imbauan siswi muslim mengenakan jilbab. Penggalan surat pengumuman tentang syarat daftar ulang bagi peserta didik yang diterima tahap II (reguler) poin 7 itu berbunyi untuk siswa yang beragama Islam khususnya siswa putri harus berjilbab/tutup kepala warna putih, dan membawa mukena/rukuhuntuk pelaksanaan sholat jama'ah. Surat bertanda tangan Kepala Sekolah SMP Negeri 11, Sukirno itu diberi tanggal 13 Juli 2017. 

Surat kewajiban berjilbab bagi siswi muslim juga muncul pada surat pengumuman SMP Negeri 7 Yogyakarta. Surat bertanda tangan Kepala SMP N 7, Sugiharjo itu tertanggal 13 Juli 2017. Poin 3 dalam surat itu berbunyi pakaian seragam yang dipakai mulai tanggal 20 Juli 2017 jika sudah memiliki adalah: A. Hari Senin. a.2. Bagi siswi putri busana muslimah: kerudung putih, rok putih panjang, baju putih lengan panjang. b. Hari Selasa sampai dengan Rabu. b.2. Bagi siswi putri busana muslimah: kerudung putih, rok biru panjang, baju putih lengan panjang. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Edy Heri Suasana  berbalik mempertanyakan ketika Tempo bertanya. “Kalau yang bukan muslimah, bagaimana? Kalau muslim dan muslimah diwajibkan sholat, apakah salah? Apakah kewajiban sholat bagi umat muslim termasuk intoleransi?,” kata Edy ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat. 

Ia meminta Tempo untuk melihat pedoman pakaian sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ihwal aturan seragam sekolah. Pakaian seragam sekolah di seluruh jenjang diatur dalam Peraturan Mendikbud (Permendikbud) Nomor 45 Tahun 2014. Peraturan itu bicara tentang seragam yang harus digunakan siswa siswi di sekolah. Dalam aturan itu, tidak ada penjelasan siswi di sekolah negeri wajib mengenakan jilbab. Sebaliknya, tidak ada larangan siswa memakai jilbab. 

Kepala SMP N 11 maupun SMP N 7 membantah sekolahnya mewajibkan siswi beragama Islam untuk mengenakan jilbab. Kepala SMP N 11, Sukirno mengatakan pengumuman tentang seragam sekolah setelah siswi diterima di sekolah itu hanya imbauan, bukan kewajiban. Menurut dia, pengumuman itu hanya menyangkut sopan santun atau etika kesopanan.

Sukirno beralasan, pengumuman itu dikeluarkan dengan pertimbangan penumbuhan karakter dan sesuai visi misi sekolah yakni ketakwaan dan keimanan. Selain itu, etika kesopanan untuk siswi. “Itu hanya imbauan, bukan kewajiban,” kata Sukirno. 

Kepala SMP N 7, Sugiharjo juga membantah kewajiban siswi muslim mengenakan jilbab di sekolahnya. Menurut dia siswi muslim boleh tidak berjilbab asalkan menjaga kesopanan. Ia menyatakan siswi berjilbab itu mengikuti proses. “Kami tidak mewajibkan. Saya hanya mengharapkan orang beragama sesuai dengan tuntunannya,” kata Sugiharjo.



SHINTA MAHARANI
SELASA, 18 JULI 2017 | 13:22 WIB
TEMPO.CO, YOGYAKARTA-  

Pembunuhan Ahok

Rencana Pembunuhan Ahok Terdeteksi dalam Aplikasi Telegram


Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan membenarkan rencana pembunuhan terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi salah satu alasan diblokirnya aplikasi pesan singkat Telegram.

Rencana pembunuhan terhadap Ahok tersebut dibarengi dengan rencana pengeboman mobil dan tempat ibadah pada 23 Desember 2015.

"Data ini kami terima dari Densus (Detasemen Khusus). Jadi untuk detail bagaimana ancaman itu Densus yang tahu," ujar Semuel ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (18/7/2017).

Selain alasan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga membeberkan alasan lain mengapa layanan Telegram diblokir.

Salah satu alasan lain diblokirnya aplikasi tersebut adalah peristiwa penyerangan senjata tajam oleh seorang pria terhadap dua anggota polisi di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan pada 30 Juni 2017 lalu.

"Sejak 2015, mereka (teroris) sudah memanfaatkan Telegram sebagai alat komunikasi. Dari semua aksi yang terungkap, hanya ada dua yang tidak memakainya," ucap Semuel di Gedung Kemenkominfo, Senin (17/7/2017) malam.

Pemblokiran dilakukan terhadap 11 alamat DNS yang digunakan untuk mengakses layanan chat tersebut. Aplikasi mobile Telegram sendiri masih bisa digunakan hingga sekarang.

Seperti diketahui, Kemenkominfo telah memblokir aplikasi web Telegram sejak Jumat (14/7/2017).


JAKARTA, KOMPAS.com - 

Senin, 17 Juli 2017

Tabiat Kemenangan

THE 50 SECONDS MOMENT OF EXCELLENT ...

Hanya 50 detik ....

Pertempuran dari para master itu berlangsung. Namun dalam peristiwa yang hanya sekejap itu, bisa menohok jantung siapapun yang menyaksikannya. Hal itu terjadi dalam final Judo kelas berat, dalam momentum sebesar olimpiade musim panas 1984 di Los Angeles USA. Atlet mana yang tidak ingin jadi juara olimpiade. Medali tertinggi dalam cabang olahraga, yang dipersembahkan untuk negara tercinta.

Drama itu dimainkan oleh dua judoka terbaik dunia, Yamashita Yasuhiro dari Jepang dan Muhamed Ali Rashwan dari Mesir, yang berhadapan sebagai musuh diatas matras.
Yamashita harus berjuang ekstra keras sebelum masuk ke final. Dalam perempat final, saat berhadapan dengan Arthur Schnabel sang juara Jerman, Yamashita harus mengalami cedera berat. Sekalipun dia memenangi ronde itu, namun otot betis kanannya robek terkoyak. 
Dengan cedera separah itu, siapapun bahkan rakyat Jepang pasti mampu memahaminya dan memaafkan, jika dia terpaksa mundur dari pertandingan. Namun itulah yang menjadi pembeda. Yamashita memutuskan untuk menahan rasa sakitnya, dan terus maju ke pertandingan berikutnya.

Babak semifinal melawan pejudo dunia tangguh lainnya, Laurent Del Combo. Berjalan memasuki arena dibantu sang pelatih, dengan kaki kanan yang terpaksa diseret. Lalu kedua jagoan tadi saling membungkuk menghormat, dan waist berteriak ... hajime !, mulai bertanding ...!!!
Yang dikhawatirkan banyak orang memang terjadi. Yamashita yang cenderung kidal, mengandalkan kaki kanannya sebagai tumpuan, saat melakukan bantingan atau lemparan. Terutama saat dia melakukan jurus andalannya, yaitu bantingan osotogari  yang mematikan itu. Laurent hanya butuh waktu 30 detik, untuk menghempaskan yamashita ke kanvas, dengan jurus osotogari yang sama.
Yamashita hanya meringis kesakitan saat kembali bangkit. Siksaan rasa sakit karena otot yang terkoyak di betis kanannya, plus siksaan karena dia kini tertinggal satu poin wazaari dari lawannya. Pilihannya dia mundur karena cedera semakin parah, atau dia menahan rasa sakit dan meneruskan pertandingan sampai akhir. Yamashita memilih opsi kedua.
Akhirnya dengan susah payah, yamashita berhasil memasukan jurus andalannya. Osotogari pada Laurent, sehingga skor menjadi satu satu. Pada momen teramat kritis itu, dengan sisa tenaga, Yamashita berhasil mengambil lawannya dengan  jurus Yoko-Shiho-Gatame, sehingga skor 2 – 1 untuk Yamashita. 

Konskewensi dari kemenangan di babak semifinal, membuat robekan otot semakin membesar. Memaksa kaki kanan yang cedera parah sebagai pusat tumpuan bantingan, hanya membuat Yamashita nyaris sulit untuk berdiri, apalagi berjalan normal. Harga yang sangat mahal, demi mencapai tujuan memasuki babak final di arena olimpiade.

Di babak final menunggu raksasa dari mesir, Mohamed Ali Rashwan, yang dengan mulus mengalahkan pejudo-pejudo kelas dunia tangguh lainnya. Lawan yang sungguh tak mudah untuk dikalahkan. 

Hanya dengan cara berjalan menyeret kaki kanannya, Yamashita mampu kembali berdiri tegak diatas arena. Dalam keadaan terluka parah, dia dihadapkan para peristiwa to be or not to be. Its now or never !. Lalu drama itu terjadi ...
Pertarungan keduanya diwarnai bukan dalam posisi berdiri, namun dengan cara newaza, alias bergumul diatas matras. Pada detik ke 50 itulah Yamashita mampu melakukan kuncian yang membuat Rashwan tak berkutik. Wasit menghentikan pertandingan, seraya memberikan kemenangan ippon, alias mutlak pada Yamashita.

Pertandingan dan kisah perjalanan karir seorang legenda judo terbesar dunia. Sebuah cerita dari militansi dan tak kenal mundur dan menyerah. Sebuah contoh, bagaimana jargon “tabah sampai akhir” di implementasikan dengan sempurna. Menjadi pembeda saat arus mainstream menyatakan, harus mundur karena cedera menganga. Namun Yamashita menolak, karena dibalik kesakitan itu terdapat tanggung jawab, yaitu wakil kebanggaan bangsanya, masyarakat Jepang. 

Yasuhiro Yamashita yang melegenda. Sudah mencapai sabuk hitam sejak SMP, juara Jepang di usia 19 tahun, saat dia mulai kuliah di Universitas Tokai. Mundur sebagai atlet 9 tahun kemudian, di usianya yang ke 28. Selama itu dia menjadi juara jepang 9 tahun berturut-turut. Juara dunia 3 kali, dan yang terakhir menjadi juara olimpiade. Dalam kurun waktu itu dia melakukan 203 kali pertandingan, tanpa pernah kalah sekalipun. Sebuah rekor statistik yang belum ada duanya. Sehingga sungguh menjadi sosok yang patut ditiru, dan menjadi sangat wajar ketika kini dia diangkat menjadi direktur bidang pendidikan di Federasi Judo Dunia.

Nun jauh di Alexandria Mesir  ....
Muhamed Ali Rashwan, setiap kali melihat rekaman pertandingan final itu, matanya berkaca-kaca. Sebuah rasa haru yang sudah pada tempatnya, seperti ungkapannya ...  "Pada tahun 1984, saya terpilih untuk mewakili negara saya di Olimpiade di Los Angeles. Saya tahu bahwa dalam kategori saya, orang yang harus dikalahkan adalah Yasuhiro Yamashita dan saya sedang bermimpi bertemu dengannya di final Olimpiade. Setiap usaha untuk menurunkan dia. Dia adalah ikon sejati untuk semua judoka pada saat itu “.
Saat wartawan memburunya seusai drama difinal itu, dan bertanya apakah Rashwan tak tahu bahwa Yamashita sudah cedera parah pada kaki kanannya. Sehingga secara taktis Rashwan bisa memusatkan serangan pada kaki terlemah itu, dan memenangi perlombaan, seraya merenggut medali kebanggaan setiap atlet dan negara .... medali emas olimpiade.

Rashwan menjawab .... “ Sebenarnya, saya tidak menginginkan kemenangan seperti ini. Saya tidak ingin orang bisa mengatakan suatu hari bahwa saya menang karena Yamashita terluka. Aku tidak bisa menerimanya untuk diriku sendiri ”. ... Hal itu bukan sekedar ucapan, namun dalam perbuatan nyata.

Rashwan sebagai judoka kelas dunia tahu persis. Bila ingin menang, harus mengambil keuntungan dari kelemahan lawan. Teknik bertanding dengan cara tetap berdiri, lalu menghajar kaki yang yang cedera, adalah metoda yang paling masuk akal. Namun Rashwan tak sudi melakukan itu.
Rashwan bertanding dengan Yamashita, bukan sekedar dengan akalnya, dia menggunakan hati, perasaan dan nuraninya !. Jiwa sportifitasnya menolak untuk menyerang kaki yamashita, yang pasti akan memperburuk koyakan luka yang akan semakin parah. Rashwan lalu memilih bertanding dengan cara newaza , yaitu bergumul dibawah. Sebab dengan cara itu, maka kaki Yamashita akan berkurang bebannya. Sebaliknya cengkraman, pitingan dan kuncian tangan akan lebih dimaksimalkan. Pilihan yang “salah” dari Rashwan, karena Yamashita juga memang master dalam hal newaza. 

Mata Rashwan yang berkaca-kaca itu, bukan karena penyesalan akibat pilihan “salah” nya di final. Sekalipun dia pulang dengan merelakan medali emas pada Yamashita. Namun Rashwan membawa pulang sebuah medali lainnya, yang dikeluarkan oleh Komite Fair Play Internasional. .... Medali emas Fair-Play atas jiwa sportifitasnya dalam babak final olimpiade... !!!. Medali puncak kebanggaan setiap atlet, yang tahu persis arti dari kejujuran dan keadilan dalam setiap pertandingan.

Rashwan, hanya seorang pria sederhana dikenal ramah tamah pada siapapun. Tetapi dimensi keteladanannya membuatnya menjadi figur yang sangat dihormati. Bahkan di jepang sendiri, saat dia secara reguler di undang selaku tamu kehormatan oleh Federasi Judo Jepang. 
Katanya .... "Sport has too often become like a war," terusnya, "we must return to the core values of sport: an athlete must respect his/her opponent, the students must respect their masters, the referees must respect the competitors and vice versa." 

Drama 50 detik dalam final olimpiade itu, ternyata hanya satu kata kunci saja , yaitu “RESPEK”.

Yamashita, respek pada beban tanggung jawab dari bangsanya, menghasilkan usaha perjuangan “Tabah sampai akhir” yang tak kenal menyerah.
Rashwan, respek pada tanggung jawab kemanusiaannya, melahirkan sikap “sportif” dan berlaku adil pada lawan sekalipun.

Sang Respek ...
Semakin menjadi barang langka di negeri ini
Para tokoh dan pemimpin yang kehilangan pemahaman tentang makna respek,
akhirnya hanya akan membumi hanguskan aspek KETELADANAN 
Bagi generasi-generasi penerusnya ....

Met Pagi semua.... Salam sehat, respek dan sportifitas..