Kamis, 29 Desember 2016

Natal

Anda tidak perlu setuju dengan saya. Saya pun tidak butuh disetujui. Setujuilah jalan Anda sendiri karena jika Anda masuk ke kedalaman jiwa, tidak pernah ada jalan yang sama meski kita menuju arah “pulang” yang sama.

Tulisan ini tidak mewakili institusi manapun atau agama apapun. Ini hanya catatan seorang pejalan hina dina yang mencoba mencari “jalan pulang” di gelapnya malam yang bertaburan bintang-bintang.

Begini, mungkinkah kita bicara tentang Yesus tanpa melibatkan kekristenan? Mungkinkah kita mengikuti Yesus dan menimba kebajikan hidup dari ajaran-Nya tanpa harus menjadi orang beragama Kristen, baik Protestan maupun Katolik?

Yesus bukan orang Kristen. Yesus adalah orang Yahudi. Kata Kristen baru muncul setelah Yesus wafat. Oleh para pengikutnya, Yesus diimani sebagai Kristus yang artinya “Yang diurapi”, Raja, Sang Juruselamat. Kristen artinya pengikut Kristus.

Perjalanan sejarah selama 2.000 tahun ini kemudian “mengkerangkeng” Yesus seolah-olah ia hanya milik orang beragama Kristen. Jika ingin menjadi pengikut Yesus maka orang harus menganut agama Kristen.

Bisakah menjadi pengikut Yesus, menimba kebajikan hidup daripada-Nya dan menjadikan sosok serta ajaran-Nya sebagai panduan hidup tanpa harus menjadi orang beragama Kristen?

Kenapa tidak? Yesus tidak mendirikan agama tertentu dan mengeksklusifkan dirinya bagi para pemeluk agama itu. Yesus datang untuk semua orang.

Maka, kita tidak perlu menjadi penganut agama Kristen untuk mengikuti jalan terang kehidupan yang dijajarkan-Nya.

Manusia paripurna

Apa yang diajarkan Yesus? Bagi saya, Ia datang mengajarkan cara menjalani hidup untuk menjadi *manusia paripurna*.

Artinya, manusia yang *menyadari ke-Ilahi-an dalam dirinya*. Manusia tercerahkan seperti halnya Sidharta Gautama.

Manusia yang *menyadari kemanunggalan kawula dan Gusti* dalam tradisi Jawa. Manusia yang menyadari bahwa dirinya dan Tuhan adalah satu. Manusia yang *terbangunkan* dari ilusi keterpisahan antara dirinya dan Tuhan.

Itu yang dikatakan Yesus pada Filipus, salah seorang muridnya. Pada suatu waktu Filipus bertanya pada-Nya,
_“Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Itu sudah cukup bagi bagi kami.”_

_Jawab Yesus, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?”_

Pada bagian lain ia berkata, akan ada saatnya kita menyadari bahwa “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Nasihat Yesus pada Filipus seperti nasihat Sri Krishna kepada Arjuna di padang Kurusetra menjelang perang Baratayudha sekitar 3000 tahun sebelum Masehi sebagaimana dikisahkan dalam *Bhagavad Gita*. 

_“Wahai Arjuna Putra Pandu, setelah meraih pengetahuan sejati dan tercerahkan, kau tidak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan kemanunggalan dengan semua mahluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku,” kata Sri Krishna._

Pengalaman yang sama juga dikisahkan *Jalaluddin Rumi*, seorang Sufi yang banyak menghabiskan hidupnya di Turki sekitar tahun 1200 Masehi dalam syairnya tentang *Kekasih*.

_Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih dan mengetuk pintu._

_Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
_Dia menjawab, “Ini aku.”_
_Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”_
_Pintu tetap tertutup. Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya,_
_“Siapa di sana?”_
_Dia berkata, “Inilah Engkau.”_

_Maka sang pintu pun terbuka untuknya._

Perkataan Yesus bahwa “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” bukan hanya dimengerti sebagai keistimewaan pribadi Yesus yang diimani kekristenan sebagai Tuhan, tapi juga *sebuah panggilan* agar setiap manusia di muka bumi memiliki kesadaran yang sama bahwa sesungguhnya kita semua ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita.

Panggilan universal

Panggilan Yesus itu bersifat *universal* ditujukan kepada semua manusia di muka bumi. Panggilan itu pun sejatinya juga *kerinduan* semua manusia yang mendambakan *kebahagiaan hidup*.

Yesus mengajarkan, kebahagiaan hidup yang sejati hanya dapat dicapai jika manusia sadar bahwa dirinya dan Tuhan adalah satu.

Kebahagiaan itu bisa dicapai dalam *kehidupan di sini*, saat ini, tanpa harus menunggu kematian dan dunia akhirat. _“Carilah dulu Kerajaan Allah maka semuanya akan diberikan kepadamu.”_

Agama hanya kulit luar, bukan buahnya. Buahnya ada di kedalaman batin, tertutup ego, ambisi, nafsu, amarah, dengki, benci, iri hati, dan ketamakan. *Masuklah ke dalam*. Jalan yang sulit memang. Tapi, cuma itu jalannya.

Dalam arti tertentu agama yang dimaknai pada kulit luarnya menjadi berbahaya ketika ia menjadi instrumen yang mengotak-ngotakkan manusia.

Mereka yang berada di dalam kotak hampir selalu akan berkata, kotakku yang paling benar, kotakmu salah.

Afirmasi bahwa *aku yang paling benar*, aku bagian dari kelompok terpilih, agamaku yang paling suci, dalam perjalanan sejarah membuktikan lahirnya penindasan-penindasan dan beragam kejahatan atas kemanusiaan. Justru afirmasi macam ini yang ingin *dihancurkan* Yesus.

Tak ada bangsa terpilih sebagaimana keyakinan bangsa Yahudi. *Semua orang adalah terpilih*. Semua manusia, apapun suku dan kelompoknya adalah sama derajatnya di hadapan Sang Pencipta dan dipanggil pulang untuk bersatu dalam rumahNya.

Tuhan yang satu

Dalam terang itu Yesus berkata, _“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”_

Tuhan siapa?

Bukan Tuhan Kristen, bukan Tuhan Hindu, bukan Tuhan Kejawen, bukan Tuhan Islam, bukan Tuhan Konghucu, bukan Tuhan Budha. Tapi, *tuhan yang satu* itu, satu-satunya Sumber Kehidupan.

Ya, cuma ada satu Tuhan itu. Tuhan yang sama yang dialami Yesus, Budha, Krishna, Rumi, dan semua para nabi. Semua orang suci di muka bumi yang lahir di sepanjang segala zaman yang pada dirinya mengalami pengalaman akan Tuhan sesungguhnya hanya bicara tentang Tuhan yang satu itu.

*Kedegilan hati* manusialah yang kemudian *mereduksi* seolah-olah Tuhan itu berbeda-beda versi. Yesus mengajak setiap manusia untuk mencintai dan mengalami pengalaman akan Tuhan yang satu itu.

Bagaimana caranya mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi?

Hanya ada satu cara: _“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”_ Kenapa mencintai Tuhan harus berarti mencintai sesama manusia?

Ya tidak bisa tidak karena seperti yang Yesus katakan, Tuhan dan manusia adalah satu. Ia bukan dua entitas yang terpisah satu sama lain. Adalah *tidak mungkin* mencintai Tuhan tanpa mencintai manusia.

Siapakah sesamaku manusia? 

Yesus punya cerita yang sangat indah saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang Ahli Taurat tentang siapakah sesamaku manusia. Ia menuturkan kisah orang Samaria yang baik hati. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Sesamaku manusia adalah siapapun dia yang mengalami kesusahan tanpa harus memandang agama, suku, ras, dan golongannya. 

Bagi Yesus seorang manusia berharga karena ia adalah manusia, bukan karena latar belakang atau atribut sosialnya. Bahkan, seorang yang dianggap pendosa oleh kelompok masyarakat adalah mulia di mata Yesus.

Itulah kenapa ia memilih singgah di rumah Zakeus pemungut cukai yang dibenci oleh masyarakat Yahudi.

Itulah kenapa ia membela seorang pelacur yang hendak dirajam batu, menyembuhkan orang kusta dan buta yang dipandang hina masyarakat karena dianggap mengidap dosa turunan.

Kemanusiaan yang diajarkan Yesus adalah *kemanusiaan yang tidak mengenal batas-batas tembok*.

Dalam terang jalan kemanusiaan universal ini, Natal sungguh bukan previlegi orang Kristen. Natal dapat dimiliki dan dirayakan oleh semua orang di segala penjuru bumi yang mencari kebajikan hidup.

Pada hari Natal kita mengenang kelahiran seorang manusia yang telah *tercerahkan budinya* dan mengajarkan bagaimana caranya *mencintai Tuhan dan sesama*.

Selamat Natal, kawans. Semoga semua mahluk berbahagia.


Heru Margianto, salah satu editor Kompas.
-----------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.