Selasa, 18 September 2012

Lukisan Palsu dan Sejarah Palsu


Djuli Djatiprambudi

 

            Belum lama ini dunia seni rupa Indonesia heboh. Pusat kehebohan itu berada di Magelang. Tepatnya di Museum Seni Rupa milik dr. Oei Hong Djien (OHD), yang dibuka April lalu. Dia dikenal luas sebagai kolektor karya seni rupa yang berpengaruh di negeri ini. Koleksinya terbilang lengkap, merepresentasikan sejarah seni rupa Indonesia, ditambah dia memiliki jaringan luas, karena itu dia amat disegani di kalangan kolektor. Segala omongannya menyangkut karya seni rupa sering dijadikan bahan rujukan, bahkan karya seni yang dikoleksinya sering dijadikan standar kualitas karya seni yang layak dikoleksi. Begitupun dengan galeri dan balai lelang, menempatkan OHD sebagai narasumber yang dianggap terpercaya untuk menilai kualitas dan keorisinalan karya seni rupa. Para perupa juga menempatkan OHD sebagai kolektor yang mampu mengerek ketenarannya tatkala OHD mengoleksi karya perupa tersebut. Dengan posisi ini, OHD lalu muncul sebagai kuasa simbolik yang amat berpengaruh di dunia pengoleksian karya seni rupa.

Apa sebenarnya pemicu kehebohan itu? Pemicunya sebenarnya terbilang sederhana, yaitu lukisan palsu. Masalahnya menjadi tidak sederhana, karena lukisan yang diduga keras palsu itu tergantung di dinding museum OHD yang baru saja diresmikan itu. Apalagi sejumlah karya terduga palsu itu karya para perupa yang dikelompokkan OHD sebagai maestro seni rupa Indonesia, yaitu; Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Soedibio. Kita tahu, karya tiga perupa itu sebagai ikon besar dalam pasar seni rupa (art market). Keberadaannya diburu banyak kolektor, art dealer, hingga balai lelang, lantaran memperlihatkan daya pukau estetik dan bernilai ekonomi tinggi. Maka wajar, jika akhirnya publik seni rupa lantas mempertanyakan sejumlah karya yang diduga palsu itu, sekaligus mempertanyakan otoritas yang disandang OHD sendiri, yang selama ini dianggap salah satu kolektor terpenting di Indonesia pasca Presiden Soekarno.

Memang, sejumlah lukisan yang terduga keras palsu itu sampai hari ini masih memicu perdebatan. Ada yang percaya, dan ada yang tidak percaya sama sekali. Di mata orang yang percaya bahwa lukisan itu palsu berdasarkan sejumlah fakta, bahwa sebenarnya sangat jarang ada kolektor karya seni yang benar-benar bebas dari jejaring lukisan palsu. Dari dulu hingga sekarang, lukisan palsu tetap menghantui dunia seni rupa. Lebih-lebih, tatkala lukisan dijadikan representasi simbolik dalam kelas sosial, yang diperebutkan, dan dikonstruksikan nilainya sedemikian rupa dalam art market. Keberadaan lukisan palsu makin menjadi-jadi. Ada jejaring yang kuat di dalamnya, beredar secara sistemik, dan berlangsung di bawah permukaan.

Maka, jangan heran, kalau kemudian sebanarnya terlalu banyak contoh untuk menunjuk para kolektor yang kebobolan lukisan palsu. Dan andaikata, seorang kolektor kebobolan lukisan palsu, biasanya lantas uang yang sudah terlanjur untuk membeli lukisan palsu itu dianggap sebagai semacam bayar “uang sekolah”. Termasuk, kalau misalnya kolektor tersebut mendapatkan karya asli dari seorang pelukis, namun ternyata karya tersebut bukan karya terbaiknya. Dengan ini, sebenarnya sebagai kolektor karya seni rupa Indonesia, memang penuh resiko. Resiko ini makin mengkhawatirkan, karena karya seni rupa yang dikoleksi itu miskin rujukan, baik rujukan yang berbentuk referensial (kajian atau kritik), data visual yang ada di museum, galeri, dan di studio perupa yang bersangkutan.

Sebaliknya, di mata orang yang tidak percaya kalau kolektor sekaliber OHD kebobolan lukisan palsu, juga didasarkan atas fakta yang selama ini ditunjukkan OHD. Dia dalam banyak hal bisa dikatakan sebagai kolektor yang selama ini cenderung bersikap terbuka dan amat senang diajak berdiskusi atas koleksi-koleksinya. Dia mampu menjelaskan dengan terinci, bahkan terasa penuh penghayatan atas semua karya seni rupa yang dikoleksinya. Dia sangat memahami perupa yang menciptakan karya yang dikoleksinya. Dia memiliki data yang cukup untuk menjelaskan apa saja sisi-sisi yang menarik di balik karya seni rupa yang dikoleksinya, yang jarang diketahui publik, dan tidak tercatat dalam sejarah seni rupa.

Pendek kata, koleksi OHD sesungguhnya selama ini bukan sekadar koleksi pribadi yang tak terjamah oleh orang lain untuk menikmati dan mendiskusikannya. Yang terjadi, OHD justru sangat terbuka koleksinya dijadikan bahan diskusi untuk pembelajaran bersama. Setidaknya itu yang juga saya alami, ketika beberapa kali mengunjungi museum OHD, dan dia dengan senang menjelaskan satu persatu koleksinya. Dengan sikap terbuka semacam itu, di baliknya tersembunyi pesan, bahwa museum OHD sengaja diikhlaskan sebagai tempat belajar bersama, memahami karya-karya terbaik perupa Indonesia, baik yang asli maupun yang (mungkin) palsu. Karena, saya menduga resiko itu sangat disadari oleh OHD.

Pesan yang tersembunyi berikutnya, dengan memakai logika sederhana, tidak mungkin OHD terlibat dalam jejaring lukisan palsu, kalau sikapnya begitu terbuka terhadap semua koleksinya untuk diketahui publik. Kalau toh kemudian ternyata dari sejumlah koleksinya itu ada yang palsu, OHD sendiri tampak tidak serta-merta bersikukuh mempertahankan reputasinya sebagai “kolektor prestisius”. Dia tetap menerima kritik dari pihak luar, tentu kritik tersebut didasarkan atas bukti-bukti yang kuat.

Kehebohan yang disulut dari museum OHD tersebut, tentu tersembunyi hikmah di baliknya. Pertama; dunia seni rupa Indonesia yang selama ini telah berkembang sedemikian luas ternyata tidak dibarengi tumbuhnya museum-museum yang representatif, yang mempekerjakan para peneliti seni dan ahli sejarah seni, yang setia mendokumentasikan data, menelaah data, hingga pada penyusunan historiografi. Kedua; dunia seni rupa Indonesia sekalipun telah memasuki era art market yang begitu menggemparkan, ternyata tidak diimbangi kajian kritis berupa kritik seni atau kajian-kajian lain yang berujung pada buku standar yang benar-benar berbasis riset yang teruji. Ketiga; dunia seni rupa Indonesia modern/kontemporer sesungguhnya sudah lama mengidap kekurangan yang sangat fatal, yaitu berupa media seni rupa yang representatif. Sejumlah media yang salama ini muncul, ternyata tidak mendapatkan dukungan sepadan dari publik seni rupa sendiri. Akibatnya, media-media itu tumbuh sementara waktu, untuk selanjutnya mati selamanya. Maka, jangan heran, kalau kemudian dunia seni rupa Indonesia di mata internasional sangat miskin teks yang berisi informasi hingga kajian-kajian kritis. Pendek kata, seni rupa Indonesia benar-benar miskin data. Keempat; dunia seni rupa selama ini hanya terjebak pada pertumbuhan infrastruktur pasar semacam galeri, lelang, art dealer, kolektor, yang semuanya hanya fokus pada gejala komodifikasi seni. Akibatnya, infrastrukstur wacana semacam media, kritikus, peneliti, art historian, dan pendidikan tinggi seni, selama ini terlihat tidak bisa mengimbangi dinamika pasar. Hal ini terjadi, karena selama ini antara dua infrastruktur itu tidak terbangun hubungan resiprokalitas.

Akhirnya, kita harus selalu was-was, tatkala dua infrastruktur itu tidak ditumbuhkan secara seimbang, lukisan palsu akan makin berkeliaran bebas. Dan jika fenomena ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin disuatu masa nanti sejarah seni rupa Indonesia akan diselimuti sejarah palsu, karena bisa jadi data-data yang dipakai untuk menulis sejarah berangkat dari karya-karya palsu.
 
 
(*) Pengajar di Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Pascasarjana Unesa.

 

BIODATA

 

DJULI DJATIPRAMBUDI - Lahir di Tuban, Juli 1963. Pendidikan S1 di jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa), S2 dan S3 (Program Studi Ilmu Seni Rupa dan Desain) di Sekolah Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung. Sejak 1986 hingga kini, ia aktif menulis seni rupa di sejumlah media massa dan jurnal seni rupa; Visual Arts Magazine, Kompas, Jawa Pos, Surya, Suara Merdeka, Media Indonesia, Surabaya Post, majalah Gong, dsb. Dua kali ia memenangkan lomba menulis tingkat regional, dan dua kali tingkat nasional. Staf pengajar mata kuliah Kritik Seni, Metode Penelitian Seni, dan Estetika di Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya. Sejak tahun 2000 sebagai kurator dan konsultan seni rupa independen. Buku yang sudah ditulis dan diterbitkan; BUNG KARNO, SENI RUPA DAN KARYA LUKISNYA (2001); TINJAUAN SENI (2003); DINAMIKA DWIJO SUKATMO (ditulis bersama Eddy Soetriyono, 2005); MOEL SOENARKO: PELUKIS REALIS-HUMANIS (2005); SPIRITUALITY OF ASRI NUGROHO’S ART (ditulis bersama Setiawan Sabana, 2006); kontributor buku MODERN INDONESIAN ART FROM RADEN SALEH TO THE PRESENT DAY (2006); kontributor buku JARINGAN MAKNA TRADISI HINGGA KONTEMPORER (2006); MENGGUGAT SENI MURNI (2007), MUSNAHNYA OTONOMI SENI (2010), dan kontributor sejumlah penulisan katalog pameran seni rupa berskala lokal, regional, nasional, dan internasional. Alamat rumah: Jl. Mustari Gg. Vihara 33 Kota Batu-Jawa Timur. Alamat Kantor: Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS, Unesa, Kampus Lidah Wetan Surabaya. E-mail: djulip@yahoo.com.

 

Jawa Pos, Minggu, 16 September 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar