Sabtu, 14 April 2012

Logika Dialektis

Ada dua macam cara berfikir : Logika Formal dan Logika Dialektis. Logika dialektis banyak dipakai oleh orang-orang komunis di Rusia. Perbedaan utama kedua jenis cara berfikir tersebut adalah, logika formal memberikan jawaban2 tepat dan konkrit, sedangkan logika dialektis tidak pernah memberikan jawaban yg mutlak.
Dalam logika formal segala sesuatu bersifat pasti, dalam batas yg ditetapkan. Sedangkan dalam logika dialektis semuanya mengalir terus, bebas berubah.


Dalam metode dialektis, segala sesuatu berhubungan satu sama lain, dan saling hubungan ini bersifat universal. Artinya kalau kita melihat ada A, B dan C. Maka itu tidak sama dgn kalau kita hanya melihat A saja, lain kali melihat B, kemudian kapan2 melihat C. Menurut logika dialektis, A, B, dan C itu saling berhubungan. Seperti jam weker, didalamnya ber-tumpuk2 konstelasi roda2 bergerigi dan sekrup2. Kalau unsur2 itu disusun keliru, maka jam weker tdk akan berbunyi.


Kita bisa mengambil amsal lain untuk menjelaskan logika dialektis. Misalnya amsal dari dunia politik, contohnya masalah demokrasi dan struktur kekuasaan di dalam negara. Demokrasi blm cukup dgn adanya partai pemerintah dan oposisi, eksekutif-legislatif-yudikatif, polisi dan pers, dst. Menurut logika dialektis, semua elemen kekuasaan tadi baru menjadi bagian demokrasi kalau saling hubungannya taat pada peraturan permainan yg tuntas.


Menurut logika dialektis, tidak ada sesuatu yg tetap, melainkan bergerak dan berubah dlm ruang dan waktu. Sesuatu itu harus diperhitungkan juga bahwa suatu saat lingkungan akan berubah atau mengalami dinamika.
Boleh jadi dlm perdebatan politik dua pihak memberikan gagasan yg "benar" secara sepihak, namun kebenaran sesungguhnya mencakup keduanya.


Pengetahuan selengkapnya tentang masalah yg sedang dipertentangkan barulah dikuasai kalau kita mempelajari pemikiran kedua belah pihak.
Dengan demikian tidak ada satu kebenaran yg mutlak, melainkan senantiasa terikat pd waktu, tempat atau kondisi dan syarat khusus lainnya.


Tetapi bukan berarti kalau semuanya serba relatif dan subyektif maka sudah tidak ada lagi sesuatu yang real. Untuk mengetahui apakah suatu teori itu benar atau tidak, haruslah teori itu diuji dalam praktek atau dalam eksperimen praktis.
Misalnya, kalau kita melihat di depan kita ada kue yg lezat dan kita ingin tahu apakah kue itu secara obyektif benar2 ada atau sekedar fatamorgana. Maka kita ambil saja kue itu dan kita makan.


Boleh jadi rasa manis dan rasa kenyang yg kita alami setelah memakannya itu cuma kesan, halunisasi atau impian. Tetapi kalau kue itu merupakan kesan subyektif, pastilah tak seberapa lama kemudian kita akan mati kelaparan. Apalagi kalau di dalam perut kita tidak ada lagi yg kita makan selain kue tersebut.


Menurut Karl Marx, kebenaran pikiran, yaitu ke-real-an, kepadanan duniawi pikiran seseorang harus dibuktikan dalam praktek. Mari kita mundur kebelakang sejenak, Ibnu Sina (980-1037) mengungkapkan bahwa penularan penyakit itu tersebar melalui air dan udara. Tetapi saat itu dia belum tau apa penyebab dari penyakit, dia baru berhipotesis mengenai cara penyebarannya saja.


Robert Koch (1843-1910) melalui mikroskop menunjukkan bakteri sebagai faktor penyebab penyakit.
Dengan kemajuan pengetahuan, manusia secara rasional melacak hubungan kausal berdasarkan gambaran dunia material, tidak lagi mengandalkan faktor2 gaib.


Namun walaupun sudah modern, manusia secara instinktif cenderung men-duga2 suatu latar belakang gaib untuk segala sesuatu yg kurang dipahaminya.
Sampai hari ini pun sebagian orang masih mem-bawa2 jimat atau menghapus angka 13 dari lantai gedung bertingkat karena dianggap membawa sial.


Bagaimana bisa dijelaskan bahwa manusia yang sudah modern ini, yang sudah pintar, yang menggunakan dua jenis cara berfikir, logika formal dan logika dialektis, masih saja percaya pada sesuatu yang un-real? Ternyata kelebihan manusia dari hewan adalah karena manusia mempunyai daya imajinasi yg membuatnya peka pada firasat takhayul. Demikian pula manusia mempunyai instink untuk beragama dan instink untuk mempunyai (percaya kepada) Tuhan.


Sebenarnya keberadaan Tuhan itu bisa dijelaskan secara logika dialektis, namun orang2 komunis buru2 menghapuskan Tuhan dari daftar menu kehidupannya. Itu berasal dari kebencian Stalin yg menganggap kelompok gereja di Rusia sangat mendukung establishment yg diciptakan oleh Tsar. Karena itu untuk merombak tatanan lama yg dibangun Tsar, maka gereja juga harus dihancurkan. Stalin kemudian membentuk tatanan baru masyarakat komunis tanpa kehadiran Agama dan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar