Selasa, 22 Agustus 2017

Singaporean

S: I am a Singaporean.
F: But you look Chinese...
S: I am a Chinese Singaporean / I am a Singaporean Chinese.

F: So do you speak Chinese?
S: Yes, but not fluent.

F: But you are a Chinese..
S: I am a Singaporean Chinese, not Chinese from China.

F: So you are not a Chinese?
S: I am not Chinese from China.

F: But your great grand father is from China?
S: Yes, but I was born in Singapore, so I am a Singaporean Chinese.

F: So your great grand father speaks Chinese?
S: He speaks dialect.

F: Do you speak dialect?
S: No, I don't.

F: Why not?
S: Because our country has a Speak Mandarin campaign that is so successful that the new generation practically do not speak dialect anymore.

F: So you should speak very fluent Mandarin since it's so successful?
S: No. That campaign was effective before, but not anymore.

F: Why?
S: Because most people speak English nowadays.
S: We have a Speak Good English campaign.

F: So English is your National Language?
S: No!

F: So what is the National Language of Singapore?
S: Malay.

F: What?
S: Yes, Malay!

F: Do you speak Malay?
S: No.

F: Why not?
S: Because I am not Malay.

F: Then why is your National Language Malay?
S: That's another long history lesson.

F: So your National Language is Malay and nobody speak it?
S: The Malays speak Malay. That's their mother tongue.

S: We have four races: Chinese, Malay, Indian and Eurasian. Each speaks their own mother tongue.

F: So your mother tongue is Chinese?
S: Yes.

F: But you can't speak it fluently?
S: Yes.

F: Does the Malay or Indian speak fluent mother tongue?
S: More fluent than the Chinese speaking Chinese I supposed.

F: Why?
S: Because that's their mother tongue.

F: Then why can't the Chinese?
S: Because we speak English mainly in school.

F: I last heard that Singapore has a bilingual policy.
S: Yes, we have, we do learn mother tongue in school.

F: But you cannot speak Chinese fluently.
S: Yes.

F: Why?
S: Because our country's working language is mainly English, there is not much places to use the language, perhaps only with our grandparents and when we buy things in the market.

F: Then how is that bilingual?
S: I don't know.

F: So you are a Singaporean Chinese who can't speak your National Language, and cannot speak your mother tongue fluently and can only communicate in English with a strange accent.
S: What's wrong with my accent?

F: I don't know, it is just weird.
S:Does it sound British or American?

F: Neither, I thought you should sound British since you have been colonized before?
S: No, that was long long time ago, dude.

F: How come you try to sound American?
S: Because I watch alot of Hollywood movies.

F: Your English still sounds weird.
S: Oh, we call it Singlish.

F: So what are you really?
S: I am a Singaporean!


😌😌😌
Lieur ????????
🙄🙄🙄

Onta

OJO SPANENG... 

Seekor onta kecil bertanya kepada  induknya,

“Ibu, kenapa sih telapak kakiku
besar dan hanya terdiri dari tiga jari?”

Si induk menjawab,
“Kita kan onta, kaki seperti itu bagus untuk melewati gurun agar kaki kita tidak tenggelam dalam pasir” 

“Lalu kenapa bulu mataku panjang?” tanya anak onta lagi. 

“Jika kita berjalan di gurun, pasir-pasir kan selalu beterbangan. Bulu mata yang panjang akan melindungi matamu dari kemasukan pasir,” jawab induknya. 

“Di punggungku ada punuk. Itu untuk apa?” tanya anak onta. 

“Itu untuk menyimpan air. Jadi kalau kita berjalan melintasi gurun yang susah air, kita bisa bertahan walaupun tidak minum berhari-hari,” jawab induknya. 

Setelah sekian lama terdiam, si anak onta berkata,

“Jadi kita punya telapak kaki lebar, bulu mata panjang dan punuk dipunggung adalah untuk hidup di gurun” 

“Benar sayang,” jawab induknya.

“Lalu ngapain juga kita ada di RAGUNAN?” 

Induk onta: MENEKETEHEEEE....

💪🇮🇩🇩😅😅

The Windmills of your Mind

Round
Like a circle in a spiral
Like a wheel within a wheel
Never ending or beginning
On an ever-spinning reel
Like a snowball down a mountain
Or a carnival balloon
Like a carousel that's turning
Running rings around the moon
Like a clock whose hands are sweeping
Past the minutes of its face
And the world is like an apple
Whirling silently in space
Like the circles that you find
In the windmills of your mind

Like a tunnel that you follow
To a tunnel of its own
Down a hollow to a cavern
Where the sun has never shone
Like a door that keeps revolving
In a half-forgotten dream
Or the ripples from a pebble
Someone tosses in a stream
Like a clock whose hands are sweeping
Past the minutes of its face
And the world is like an apple
Whirling silently in space
Like the circles that you find
In the windmills of your mind

Keys that jingle in your pocket
Words that jangle in your head
Why did summer go so quickly?
Was it something that you said?
Lovers walk along a shore
And leave their footprints in the sand
Is the sound of distant drumming
Just the fingers of your hand?
Pictures hanging in a hallway
And the fragment of a song
Half-remembered names and faces
But to whom do they belong?
When you knew that it was over
You were suddenly aware
That the autumn leaves were turning
To the color of her hair

Like a circle in a spiral
Like a wheel within a wheel
Never ending or beginning
On an ever-spinning reel
As the images unwind
Like the circles that you find
In the windmills of your mind

Agama

Dulu agama menghancurkan berhala...
Kini agama jadi berhala...
Tak kenal Tuhannya...
Yang penting agamanya...

Dulu orang berhenti membunuh karena agama...
Sekarang orang saling membunuh karena agama...

Dulu orang saling mengasihi karena beragama...
Kini orang saling membenci karena beragama....
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu...
Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu...
Lalu yg berubah apanya?
Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya...
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja...

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yg paling cerdas di antara orang2 lainnya ....
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama...

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian...
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus...

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan...
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama...

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan...
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan, tak kan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.

Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tau lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan...
Agama kini menghujat Tuhan...

Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan...
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.

Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan aturan agama.

Sabtu, 19 Agustus 2017

AIDS & HIV

AIDS WARNING !

To all of you who approaching 60 or have REACHED 60 and past, this is specially for you...
SENIOR CITIZENS ARE THE WORLD'S LEADING CARRIERS OF AIDS !!!

YES, AIDS...

HEARING AIDS
BAND AIDS
WALKING AIDS
MEDICAL AIDS
GOVERNMENT AIDS
MOST OF ALL,
MONETARY AID TO THEIR KIDS!

Not forgetting HIV
(Hair is Vanishing)

HAPPY SENIOR CITIZEN DAY!!

Its good to see you smile and do pass it on to others, so that they can smile too! 😊😉

Tanpa pidato

Pesan Kebangsaan Tanpa Pidato


Mungkin hasrat, aspirasi dan kerisauan sudah mengendap cukup lama di dada para elite negara dan mayoritas rakyat, di tengah suasana umum religius yang terasa berlebihan akhir-akhir ini. Lalu Presiden Joko Widodo dengan brilian mengaktualkannya di saat yang tidak mungkin lebih tepat daripada perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Lokasinya pun tak ada yang lebih baik daripada Istana Negara.

Hasilnya: sebuah pemandangan yang belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Begitu banyak pemimpin, mantan petinggi negara dan rakyat biasa dengan bangga dan suka cita mengenakan busana daerah-daerah, sambil merayakan hari kemerdekaan kita. Gelora yang sama juga meluap ke banyak daerah – jauh melampaui ‘aksi’ serupa yang biasa dilakukan oleh panitia pilkada di TPS-TPS di berbagai wilayah.

Itu adalah statemen budaya yang sangat kuat. Jauh lebih lantang dibanding aneka pidato rutin tentang pentingnya menjaga NKRI. Itu pernyataan yang lebih tegas daripada slogan ‘NKRI harga mati’.

Parade keindonesiaan yang tak berpreseden itu juga sebuah deklarasi estetik yang gemilang. Kita menyaksikan  indah dan kayanya variasi busana daerah-daerah republik ini.

Semuanya adalah karya dan temuan atau inovasi para pemula desainer di Flores, Aceh, Minang, Jawa, Sunda, Bugis dan lain-lain (maaf, kita memang terlalu kaya!), yang dirawat oleh para seniman yang amat terampil dan hebat, meski mereka lazimnya hanya disebut ‘perajin’, status yang lebih rendah dibanding ‘seniman’ – walau mereka tak sesenti pun kurang artistik.

Pandanglah foto-foto mereka, pandanglah berulang-ulang, maka kita akan melihat sebuah suasana dan keceriaan yang menyala-nyala, disertai keanggunan yang sepatutnya. Mereka berbincang sambil berdiri atau duduk; warga biasa berwefie – semuanya memakai busana yang memikat, dengan dominasi warna-warna cerah, atau warna-warna pastel yang sejuk.

Wajah-wajah bangga dan gembira para peserta wefie, yang ternyata dengan gampang berfoto bersama para pejabat tinggi, menambah kecemerlangan tampilan total gambar-gambar itu. Foto-foto itu juga sebuah sensasi visual yang langka, dan selayaknya didokumentasikan sebagai peristiwa bersejarah, dengan aktor-aktor lintas profesi, lintas kelas, lintas posisi.

Dengan cara itu pula, secara politik Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta tim mereka telah menang tanpa ngasorake. Mereka tak mengecam atau meledek orang-orang yang berbusana berbeda. Mereka hanya menampilkan diri bersama-sama rakyat dengan busana tradisional  Aceh sampai Papua.

Orang tak perlu menjadi penyembah tradisi atau pemuja tradisionalisme untuk mampu mengapresiasi gestur budaya yang kuat dan elegan seperti itu. Faktanya segenap pakaian daerah-daerah itu adalah indah, unik, memikat. Dan di belakang mereka terbayang keterampilan teknis dan elan estetik tradisi-tradisi yang menciptakan warna-warni dalam ragam desain yang amat kaya itu.

Kenduri kebinekaan ini selayaknya dijadikan konvensi tahunan. Sebab dari semua seginya, gestur budaya yang cemerlang tersebut adalah sebuah pesan kebangsaan yang lengkap – justeru karena bukan berbentuk pidato.

Sampai jumpa di pesta nasional fashion daerah tahun depan.


Hamid Basyaib

Jumat, 18 Agustus 2017

Bung Hatta

== Kisah Proklamator ; Bung Hatta ==

Ali Sadikin terhenyak mendengar kabar itu. Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta tak mampu membayar iuran air PAM. Saking kecilnya uang pensiun, Hatta juga kesulitan membayar listrik dan uang pajak dan bangunan.

Gubernur legendaris Jakarta itu terharu melihat kondisi Hatta. Seorang pemimpin yang jujur hingga hidup susah di hari tua.

"Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu," kata Bang Ali terharu. Hal itu dikisahkan Bang Ali dalam biografinya Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977 yang ditulis Ramadhan KH.

Bang Ali tak cuma terharu, dia langsung bergerak. Sang Letnan Jenderal Marinir itu melobi DPRD DKI untuk menjadikan Bung Hatta sebagai warga kota utama. Dengan begitu Bung Hatta terbebas dari iuran air dan PBB.

DPRD setuju. Pemerintah Pusat juga memberikan sejumlah bantuan, di antaranya bebas bayar listrik.

Ironi, seorang proklamator, mantan wakil presiden, mantan perdana menteri dan seorang Bapak Bangsa Indonesia tak punya uang untuk membayar listrik dan air. Tapi itulah kejujuran seorang Mohammad Hatta. Padahal jika mau main proyek, Hatta tentu bisa kaya tujuh turunan macam pejabat bermental bandit.

Banyak kisah kesederhanaan Hatta yang bisa membuat air mata meleleh. Saat Hatta tak bisa membelikan mesin jahit untuk istrinya karena kekurangan uang. Atau sepatu Bally yang tak terbeli hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan rapi di perpustakaannya. Namun sepatunya tak terbeli oleh sang proklamator.

Hatta tak meninggalkan banyak uang. Dia mewariskan keteladanan untuk Bangsa ini. Keteladanan yang kini makin jauh dengan perilaku korup para pejabat negara.