Minggu, 19 November 2017

Rina Nose

Pelajaran penting dari Rina Nose adalah: Jangan mengenakan jilbab


Sebab, bila Anda memakai jilbab dan kemudian melepasnya karena satu alasan personal yang tidak dapat dihindari, maka caci-maki sosial akan mendarat ke diri Anda, seakan Anda melakukan dosa yang luar biasa.

Kita kini hidup di tengah masyarakat hipokrit. Masyarakat yang sakit karena merasa berhak menjadi polisi moral. Merasa menjadi Hansip atas nama agama.

Rina Nose, artis dan pembawa acara menuai cibiran. Artis ini sebelumnya memutuskan mengenakan jilbab, lalu, karena alasan personal, dia melepasnya lagi. Apa yang didapat? Hujatan dan cacian sedemikian gila, seolah Rina Nose sedang melakukan kejahatan yang teramat sangat.

Padahal, melepas dan mengenakan jilbab adalah hak dia secara personal. Orang bisa mengatakan itu adalah kewajiban beragama. Lalu, jika Rina tidak menjalankan kewajiban itu, masalahnya buatmu apa? Kenapa juga banyak orang nyinyir dan mencacinya habis-habisan.

Pertanyaan saya, dengan mengalami kondisi seperti itu, apakah Rina menyesal pernah memilih pakai jilbab? Saya rasa iya.

Seandainya dia tidak pernah menjajal memakai jilbab, dia tidak akan dihina sedemikian rupa. Dia tidak akan direndahkan oleh orang-orang yang merasa sok suci. Seandainya dia tidak pernah mengenakan kerudung panjang menutupi rambutnya, hidupnya akan aman-aman saja.

Inilah kita. Merasa sok suci. Mencela orang berdasarkan ukuran-ukuran kita sendiri. Toh Rina mengenakan dan melepas jilbab, tidak akan membuat para pencela dan penyinyir itu masuk surga atau masuk neraka. Jilbab Rina tidak ada hubungannya dengan kualitas keagamaan orang lain. Lalu, apa masalahnya?

Psikologi seperti ini sama seperti orang-orang yang mencurigai sepasang kekasih berbuat mesum lalu menelanjanginya. Ini terjadi di Tanggerang. Orang-orang biadab ini, yang marah karena ada orang berlaku mesum, tapi menelanjangi seorang wanita di muka umum.

Padahal dua pasangan kekasih itu tidak melakukan apa-apa. Mereka dicurigai punya moral lebih buruk dari penggerebeknya, lalu dinistakan sedemikian rupa. Justru para penggerebek itulah yang moralnya lebih bejat. Mereka memaksa orang bugil di depan khalayak, dipermalukan, diarak dengan kehinaan. Dua orang tidak bersalah itu dihina seperti binatang.

Tidak ada kebejatan yang lebih buruk dari para penggerebek itu. Merekalah sebejat-bejatnya manusia. Alhamdulillah, polisi telah menangkap mereka. Tapi pasal apa yang dituduhkan kepada mereka nantinya? Perbuatan tidak menyenangkan?

(123)

Suara Kita

Ananda Sukarlan Suara Kita



Tadi pagi seorang teman mengirim video singkat pidato seorang pria. 
Saya tidak mengenal pria berkemeja batik lengan pendek itu.  
Saya membuka rekaman itu.  
Lalu mendengarkannya.  
Tidak lama.  
Sekitar tiga menit. 

Pidato tiga menit itu ternyata pidato peraih penghargaan prestisius Sekolah Kanisius bersempena 90 tahun berdirinya sekolah elit khusus laki-laki itu. 

Siapa yang tidak kenal SMA Kanisius yang melegenda telah menghasilkan banyak orang beken dan hebat bagi negeri ini?  
Untuk masuk ke Kanisius bukan gampang. 
Anda punya intelijensia tinggi belum tentu diterima. 
Ada nilai kepribadian yang juga jadi penentu agar bisa diterima bersekolah di sana.  

Keponakan saya satu di antara alumnus Kanisius.  
Ia bercerita bagaimana nilai akademis bukan yang utama, namun nilai integritas dan nilai luhur Indonesia menjadi pegangan kunci bagi anak didik.  
Itu sebabnya meski Kanisius sekolah Khatolik,  tapi pendidikan dan pengajarannya tidak diskriminatif, parsial atau SARA.  

Kanisius selalu bicara persamaan hak,  keadilan, kejujuran, kebajikan dan penghormatan pada kemanusiaan tanpa pandang bulu.  
Tidak heran banyak anak muslim seperti Fauzi Bowo pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Kanisius.

Ananda Sukarlan,  alumnus 86 yang mendapat penghargaan atas prestasinya di bidang musik tentu tidak lupa akan didikan Kanisius. 
Didikan itu terpatri di dalam jiwanya.  

Ananda Sukarlan seorang anak muslim yang merasakan atmosfir suasana sekolah Khatolik itu merasakan nilai iman atau spirit spiritual Islam dari Ananda Sukarlan tidak bergeser sedikitpun menjadi Khatolik.  
Ananda tahu persis bahwa agama Islam yang diyakininya sebagai rahmatan lil alamin bersemai dalam sekolah Kanisius tempatnya dibentuk menjadi manusia.

Saya harus angkat topi untuk keberanian bersuara Ananda. 
Saya sering menulis dan berbicara soal ini. 
Namun suara Ananda tentu dampak resonansi getarannya sangat terasa.  
Meluas dan terdengar bagai gemuruh halilintar yang menghanguskan siapapun yang pernah terlibat menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan. 

"Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami.
Walaupun Anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. 
Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius.
Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan," ujar Ananda disambut sorakan gemuruh dan tepuk tangan hadirin. 

Kita ingat pesan Barack Obama jika kamu memenangkan kekuasaan dengan pecah belah, kamu akan sulit memenangkan dan menyatukan hati mereka.  
Apa yang dikatakan Barack sulit kita tentang. 
Rasanya aroma najis teriakan bunuh..bunuh.. bunuh Ahok.. 
Usir.. Usir.. Usir Djarot... 
Jangan sholatkan jenazah pendukung Ahok belum bisa hilang dari ingatan kita.  
Melihat Gabener  dan mendengar ia pidato seketika langsung membuka memori aroma busuk itu terngiang kembali di kepala kita. 

Untunglah dan patut kita syukuri,  seorang seniman kelas dunia,  Ananda Sukarlan sudah bersuara dengan terang,  jernih dan terukur.
Ananda Sukarlan seorang seniman telah bersuara dengan sangat baik.  
Ananda bak sedang berpuisi saat ia berpidato sepuluh menit usai menerima penghargaan. 

Tepatlah apa yang dikatakan Robert Penn Warren tentang puisi 
"Puisi adalah sebuah mitos kecil tentang kemampuan manusia untuk membuat hidupnya lebih bermakna. 
Pada akhirnya, puisi bukan sesuatu yang kita lihat. 
Lebih tepatnya, puisi adalah cahaya yang membuat kita melihat sesuatu lebih jelas, dan sesuatu itu adalah hidup."

Ya, Ananda Sukarlan telah membuat kita melihat sesuatu lebih jelas dan sesuatu itu adalah bagaimana hidup yang punya nilai. 

Ananda Sukarlan adalah suara kita.

Salam perjuangan penuh cinta


Birgaldo Sinaga

Usia Panjang

Ingin berusia panjang, sehat bugar ?

1. Jangan pensiun.

   Anda bisa bekerja apa saja yang bermanfaat

2. Bersihkan gigi dengan benang (floss) setiap hari

   Membersihkan gigi dengan benang setiap hari dapat mengurangi jumlah bakteri yang menyebabkan penyakit gusi di dalam mulut. Bakteri ini dapat memasuki aliran darah dan memicu peradangan di arteri, dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

3. Selalu bergerak

   Olahraga meningkatkan suasana hati (mood), ketajaman mental, keseimbangan, massa otot, dan tulang. Tidak perlu olahraga di pusat kebugaran, cukup dengan sekadar berjalan di sekitar lingkungan selama 30 menit sehari.

4. Makan sereal berserat tinggi untuk sarapan.

  Mendapatkan manfaat gandum utuh terutama di pagi hari dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah sepanjang hari. FYI kadar gula tinggi mempercepat penuaan.

5. Tidur paling sedikit 6 jam sehari

   Tidur adalah salah satu fungsi yang paling penting untuk tubuh kita, saat tidur digunakan untuk mengatur dan menyembuhkan sel-sel.

6. Konsumsi makanan utuh, bukan suplemen

7. Kurangi neurotik (tekanan saraf).

   Cara yang lebih baik untuk mengatasi stres adalah yoga, olahraga, meditasi, taichi (menarik napas dalam-dalam untuk beberapa saat). 

8. Hindari rokok,  alkohol , makanan-makanan manis. 

9. Orang-orang zaman dulu cenderung hidup dengan rutinitas yang ketat, makan makanan yang sama dan melakukan jenis kegiatan yang sama sepanjang hidup mereka. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari adalah salah satu kebiasaan yang baik untuk menjaga tubuh dalam kesetimbangan yang stabil.

10. Tetap berhubungan sosial

Memiliki hubungan sosial dengan teman atau orang-orang yang dikasihi adalah kunci untuk menghindari depresi, yang dapat mengakibatkan kematian dini.
Manfaat terbesar untuk orangtua diperoleh dari latihan interaksi sosial yang kuat, jalan-jalan dengan keluarga , juga dengan teman teman.


(Thomas Perls-Boston)

Makan Padang

Mulai besok jangan ragu hajar rendang, gulai kakap dll.


Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang.

Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. 
Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu, (20/11/2013).

Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.

“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara dengan ranahberita.com, Senin (26/11/2013).

Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. 
Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itukan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. 
Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. 
Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat didalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas.
Diantara bumbu tersebut, menurut Indrawaty yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit dan cabe.

“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. 
Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. 
Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. 
Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.

Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. 
Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.

Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.

“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. 
Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.

Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. 
Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. 
Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. 
“Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. 
Orang Amerika tidak ada makan kelapa. 
Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda”.

Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.

“Asalkan makannya jangan berlebihan. 
Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. 

Horrreee... jadi bisa makan makanan Padang lagi nih.


Guru Besar Ilmu Gizi Unand 
RANAHBERITA– 
(Arjuna/Ed1).

Ayam

Ini alasan Bill Gates piara ayam, andai miskin



Jika Anda hidup dengan hanya US$ 2 per hari, apa yang akan Anda lakukan agar lebih sejahtera?

Begitu pertanyaan yang pernah ditulis salah seorang terkaya sejagad ini di blog pribadinya (gatesnotes.com). Tulisan soal ayam ini dia beri judul "Mengapa saya akan memelihara ayam".

Sebagai orang yang lahir dan besar di kota (Seattle, Amerika Serikat), Bill Gates takjub pada kehidupan orang-orang miskin yang memelihara ayam di beberapa negara yang pernah dia kunjungi. 

Dia menarik kesimpulan bahwa kehidupan orang yang hidup dalam jurang kemiskinan akan membaik jika mereka memelihara ayam. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pendiri Microsoft Corporation ini.

Ayam mudah dan murah untuk dipelihara. Ayam bisa makan apapun yang mereka temukan di tanah, meski lebih baik jika Anda bisa memberi mereka makan karena akan tumbuh lebih cepat.

Ayam, menurut Gates, merupakan investasi yang bagus. Dia memberikan gambaran, ada seorang petani yang memulai memelihara lima ekor ayam. Salah seorang tetangga kebetulan memiliki seekor ayam jantan untuk mengawini ayam-ayam itu.

Setelah tiga bulan, si petani bisa memiliki 40 anak ayam. Akhirnya, dengan harga jual U$ 5 per ekor ayam -di Afrika Barat- dia bisa berpenghasilan lebih dari US$ 1.000 setahun. Penghasilan itu sudah melebihi ambang batas kemiskinan ekstrem sekitar US$ 700 setahun.

Dasar Gates, alasan ekonomis berinvestasi ayam itu masih dia bumbui dengan motif kemanusiaan. Menurut dia, ayam bisa membantu menjaga anak-anak tetap sehat. Kekurangan gizi telah membunuh lebih dari 3,1 juta anak saban tahun.

Meski makan lebih banyak telur yang kaya protein dan nutrisi lain dapat membantu memerangi kekurangan gizi, menurut Gates, banyak petani merasa lebih menguntungkan membiarkan telur menetas, menjual anak ayam, dan menggunakan uang untuk membeli makanan bergizi. 

Namun jika piaraan ayam para petani itu cukup banyak untuk menghasilkan telur ekstra, Gates berharap mereka akan memasaknya untuk keluarga.

Memelihara ayam juga memberdayakan perempuan. Karena ayam bertubuh kecil dan biasanya tetap hidup dekat rumah, banyak budaya menganggapnya sebagai hewan perempuan. Wanita yang menjual ayam cenderung menginvestasikan kembali keuntungan di keluarga mereka.

Namun, tentu saja kecil sekali kemungkinan bagi William Henry Gates III, nama asli dia, untuk jatuh miskin. Mustahil pula dia akan memelihara ayam jika benar-benar menunggu bangkrut dulu. 

Mungkin karena itu, ketakjubannya pada ayam dia salurkan lewat sebuah yayasan. Yayasan tersebut bergelut pada bidang perunggasan. Menjalin kerjasama dengan para mitra di seluruh sub-Sahara Afrika, yayasan Gates berupaya menciptakan sistem pasar berkelanjutan untuk unggas. 

Sistem ini berusaha memastikan petani dapat membeli unggas yang telah divaksinasi dengan benar dan sangat sesuai dengan kondisi pertumbuhan lokal. Tujuan Gates dan yayasannya membantu 30 persen keluarga pedesaan di sub-Sahara Afrika memelihara ayam yang divaksinasi, dari sekarang hanya 5%.

Anda ingin memelihara ayam juga?


KONTAN.CO.ID - 
Hasbi Maulana
Selasa, 14 November 2017 
16:37 WIB

Buka Jilbab

Rangkul Dia,
Perempuan yang Membuka Jilbabnya


Setiap kali seorang perempuan berjilbab memutuskan membukanya, saya selalu ingin menepuk bahu dan merangkulnya. Karena saya yakin itu adalah keputusan yang berat bagi kebanyakan orang.

Saya tidak selalu seperti ini. Ada satu waktu saya bertingkah menyebalkan, mengomentari keputusan seorang kawan yang membuka jilbabnya.

“What’s wrong with you?” tanya saya sinis, sok berbahasa Inggris pula.

Perempuan dengan rambut lurus sepunggung hitam kemilau itu tertunduk malu. Kemungkinan besar saya bukan satu-satunya orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu. Hanya selisih beberapa hari kemudian ia pun kembali berjilbab. Mungkin tak kuat menghadapi orang-orang resek seperti saya.

Entah kenapa saya menanyakan hal tersebut kepadanya, yang sebetulnya langsung saya sesali di saat yang sama saya melakukannya. Tapi di kepala saya saat itu, orang yang sudah berjilbab seharusnya teguh di jalannya. Berjilbab adalah sebuah keputusan besar; begitu seseorang sudah memilihnya, pantang untuk surut dan berubah pikiran. Itu nilai-nilai yang saya adopsi dari keluarga dan lingkungan saya ketika itu.

Setelah 1998, cukup banyak perempuan memilih berjilbab. Berbeda dengan era 1979-1989 saat Orde Baru sedang digdaya, ketika pemakaian jilbab dilarang dalam kelas di sekolah negeri. Pilihan untuk berjilbab ini biasanya dirayakan oleh lingkungan di sekitarnya dengan memberikan ucapan selamat.  “Selamat atas keberanian ber-hijrah” – istilah yang digunakan sebagian Muslim untuk menyebutkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kata hijrah ini  mengacu pada sejarah Islam yaitu perpindahan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dari kota Mekkah, tempat mereka kerap mengalami ancaman dan kekerasan dari kaum kafir, ke kota Madinah. Kata ‘hijrah’ ini kemudian terasa relevan untuk perempuan yang memutuskan berjilbab.

Tradisi memberikan selamat kepada perempuan yang berjilbab itu terus berlanjut pada era 1990-an hingga 2000-an meski  jilbab bukan lagi barang langka.  Pada saat itu memang telah terjadi penguatan kelompok Islam di SMA dan universitas melalui biro kerohanian Islam. Anjuran, bahkan peringatan, terus menerus disuarakan agar perempuan segera mengenakan jilbab, yang diyakini merupakan kewajiban. Peringatan ini sering bernada ancaman, meski sanksinya konon baru akan diberikan di akhirat nanti.

Suatu kali, dalam acara kerohanian Islam di kampus saya, seorang laki-laki pembicara bertutur seperti ini:

“Ada seorang Muslimah yang sangat taat dan memiliki akhlak yang sangat baik. Semua keluarga dan orang yang mengenalnya bersaksi demikian. Lalu belum lama ini ia wafat. Saat baru dua hari dimakamkan, baru terungkap kuburannya ternyata salah lokasi karena kekeliruan pengelola pemakaman. Alhasil terpaksa makamnya yang masih basah itu dibongkar kembali. Namun tak diduga terjadi kejadian yang mengejutkan yaitu bagian kepala jenazahnya berlumuran darah. Ternyata Muslimah yang sangat taat dan berakhlak karimah tadi melakukan satu-satunya dosa. Satu-satunya! Kalian tahu apa itu?“ si pembicara terdiam sejenak untuk memberikan efek dramatis.

“Ia tidak berjilbab,” demikian ia menutup kisahnya.

“Ada pertanyaan?“ ia kemudian bertanya, hampir terdengar menantang.

Seluruh ruangan aula hening.  Saya ingin angkat tangan, sayang batal. Saya hanya gatal kepingin bertanya,  bagaimana jika dia sebetulnya melakukan suatu dosa besar yang hanya dia dan Allah yang tahu dan itu tidak ada hubungannya dengan jilbab? Pertanyaan itu kemudian tertelan begitu saja.

PADA RAMBUT PARA PEREMPUAN SEOLAH BERGANTUNGAN SELURUH KEBUSUKAN DOSA UMAT MANUSIA.

Cerita-cerita seputar sanksi bagi perempuan yang tidak mengenakan jilbab hadir dan menyebar, menjadi teror mental yang menghantui perempuan. Seluruh hukuman siap menunggu perempuan tak berjilbab, mulai dari memiliki kepala seperti unta berpunuk dua, digantung dengan api neraka, digantung dengan rantai api neraka (secara spesifik dibedakan), digantung sampai ubun-ubun, digantung bagian lidahnya (ya, begitu banyak hukuman digantung), memakan badannya sendiri, memotong anggota badannya sendiri, sampai mengunyah isi perut sendiri. 

Perempuan-perempuan itu akan kekal abadi di dalam neraka. Sehelai rambut perempuan yang terlihat oleh lelaki bukan muhrim dan dilakukan dengan sengaja akan mendapatkan balasan masuk neraka selama 70 ribu tahun, sementara satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Luar biasa azab yang akan ditimpakan kepada perempuan tak berjilbab, yang bahayanya seolah lebih besar daripada seluruh koruptor bersatu menyelewengkan uang rakyat atau diktator yang melakukan pembunuhan massal.

Selain peringatan dengan ancaman neraka, tekanan mental dalam bentuk yang manis juga ada. Bahwa perempuan serta merta akan menjadi lebih elok dengan menggunakan jilbab. Lebih cantik karena kekurangan bentuk fisiknya akan tersamarkan, muda karena dahinya tertutup, lebih bersinar dari dalam karena meningkatnya iman. Berjilbablah supaya cantik lahir batin. Siapa yang tak kepingin?  

Desakan bagi perempuan untuk mengenakan jilbab itu terbukti efektif. Dalam setidaknya sepuluh tahun terakhir, pengguna jilbab semakin banyak, bahkan menjadi mayoritas di berbagai kalangan. Di acara kumpul-kumpul keluarga atau reuni yang tersebar di media sosial, sering kita lihat hampir seluruh perempuannya berjilbab. Saya beberapa kali mendengar bahwa di sejumlah instansi pemerintah dan kampus negeri, perempuan yang tidak berjilbab merasakan tekanan dari sesama kolega bahkan kadang mengalami hambatan karier.

Jika perempuan tak berjilbab telah menjadi kaum minoritas, perempuan yang membuka jilbabnya lebih terpinggir lagi, bahkan dianggap nista. Mereka menerima luapan pertanyaan, bahkan cemoohan, mulai dari yang sifatnya bisik-bisik hingga terbuka di media sosial. “Kenapa si B buka jilbab? Kasihan ya, makanya kalau iman belum kuat enggak usah berjilbab dulu.”  “Kenapa ya si A buka jilbab, mungkin karena dia stres setelah bercerai dari suaminya.” Itu komentar-komentar yang masih “baik”. Ratusan ujaran kejam bisa kita baca, misalnya, di akun media sosial Rina Nose, seorang selebriti yang baru memilih membuka jilbabnya.

Pada satu fase dalam kehidupan saya, saya pernah berjilbab, lalu memutuskan untuk membukanya. Karenanya, saya memahami bagaimana sulitnya keputusan seperti ini. Beberapa teman perempuan kerap bercerita sebenarnya mereka tidak betah lagi berjilbab, tapi terlalu malas dan lelah dengan semua konsekuensi yang akan menyertainya.

Perempuan yang ingin melepaskan jilbabnya seperti harus siap melawan dunia – serbuan orang-orang yang akan menasihatinya tentang pedihnya azab api neraka, atau menganjurkan agar ia sebaiknya keluar saja dari Islam.  Pada rambut para perempuan itu seolah bergantungan seluruh kebusukan dosa umat manusia. Kadang saking pedihnya komentar orang, neraka seperti tiba lebih awal.

Kepada perempuan yang memutuskan untuk membuka jilbab, saya ingin mengucapkan selamat. Mungkin Anda tidak melakukan hijrah seperti yang diyakini sebagian orang. Tapi Anda telah berani membuat pilihan dengan segala risiko dan penghakiman yang Anda terima. Jika ada perempuan seperti itu di sekitar Anda, temani dia, ajak bercakap tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan saja, terutama di bulan-bulan awal ia baru membuka jilbabnya. Itu bukanlah waktu yang nyaman baginya, karena ia harus berhadapan dengan sorot mata yang penuh tanda tanya, tak jarang dengan cerca. Dunia butuh lebih banyak orang seperti Anda, yang siap merangkul dan menemani tanpa banyak bertanya.

Lalu bagaimana dengan ancaman gantung-menggantung di neraka?

Biarkan saja, itu bukan lagi urusan kita.




Wednesday, 15 November 2017 - 11:55:39 WIB 
By : Feby Indirani | 

Feby Indirani adalah penulis yang menerbitkan kumpulan cerita Bukan Perawan Maria (Pabrikultur 2017) dan menginisiasi gerakan Relaksasi Beragama. 

MP

Job Interview.

OFFICER:- What is your name?

Masinton :-  M.P. sir

OFFICER:- In full please

Masinton :-  Masinton Pasaribu

OFFICER:- Your father's name?

Masinton :-  M.P. sir

OFFICER:- What does that mean?

Masinton :-  Marolop Pasaribu

OFFICER:- Your native place?

Masinton :   M.P. sir

OFFICER:- What's that?

Masinton :-  Medan Polonia

OFFICER:- What is your qualification?

Masinton :-  M.P.

OFFICER:- (angry) What is that?!!!

Masinton :-  Matric Pass

OFFICER:- So why do you need a job?

Masinton :-   It is because of M.P. sir

OFFICER:   Meaning?

Masinton :-  Money Problem

OFFICER:- Would you explain yourself and stop wasting my time? What's your  personality like?

Masinton :    MP sir.

OFFICER:   And what is that?

Masinton:-  Marvelous Personality

OFFICER:- I see... I will get back to you.

Masinton:-  Sir, how was M.P. sir?

OFFICER:- And what's that again?

Masinton j:-   My Performance.

OFFICER:-  I think you have M.P.

Masinton :-   Meaning?

OFFICER:-  Mental Problem!!!
....
Don't laugh alone.
Send this to M.P. (Many People) those are saved in your M.P. (Mobile Phone)  
to put a smile on their faces. 

I have sent this to u because u are M.P. (My People). 🙂

😁😁😂😂