Kamis, 24 Mei 2018

4 Lubang

Kearifan Lokal: Misteri 4 Lubang

Seorang wartawan ditugaskan meliput kehidupan suku pedalaman. Tiba di lokasi, ia tertegun saat melihat ada 4 lubang galian di depan rumah kepala suku. Sangat misterius, batinnya. Mungkinkah ini yang disebut kearifan lokal? Didorong rasa penasaran, ia pun menemui tuan rumah dan mulai bertanya.

"Boleh tau, Pak, 4 lubang di depan rumah Bapak itu untuk apa?" tanyanya.

"Untuk aku masuki," jawab singkat kepala suku.

"Lho, kenapa Bapak harus masuk ke lubang itu?" tanya sang wartawan heran.

"Karena Pak Camat minta fotoku," jawab kepala suku. "Dia minta foto setengah badan."

"Hah?" sang wartawan semakin keheranan. "Maksudnya gimana, Pak?"

"Lubang itu kan dalamnya semeter," jawab kepala suku menjelaskan. "Jadi nanti kalau tukang foto yang kupanggil sudah datang, aku tinggal masuk ke lubang itu."

Sang wartawan speechless oleh jawaban polos sang kepala suku. Ia garuk garuk kepalanya.

"Kalau masuk lubang kan yang kelihatan setengah badan? Iya, kan? Kan?" sergah kepala suku menambahkan. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Kepala suku menertawakan betapa bodohnya wartawan tersebut. Begitu saja tidak paham, batinnya bangga atas kecerdasannya sendiri.

Di sisi lain, sang wartawan merasa kasihan dengan pola pikir sang kepala suku. Ekspresinya antara mau ketawa sambil mau menangis. Ekspresi yang cukup rumit.

"Oke, oke...," kata sang wartawan menahan geram. "Tapi, kenapa harus 4 lubang?"

"Pak Camat minta 4 lembar."

Rabu, 23 Mei 2018

Produksi Hoax

INILAH GAMBARAN YANG TERJADI SAAT INI:

WARTAWAN:
Pak Menteri, Bapak lebih suka makan ayam goreng atau gulai kambing?

MENTERI:
Wah, saya suka ayam goreng, kambing kolestrol Dik.

WARTAWAN:
Ayam goreng pakai tepung atau tidak, Pak?

MENTERI:
Ya, Pakai tepung saya suka.

WARTAWAN:
Seperti model KFC atau McD itu ya, Pak?

MENTERI:
Ya, kurang lebih mirip begitulah.

HEADLINE DI MEDIA
Menteri Anu Lebih Suka Ayam Goreng KFC Model AMERIKA dan Tidak Suka Gulai Kambing Tradisional dari Indonesia.

KEMUDIAN Wartawan Media online MENULIS =
TERLALU! Gaya Hidup Menteri Anu Kebarat-baratan

Si Fulan membaca,
lalu bikin status di FB =
Hati-hati dengan Menteri Anu yang mendukung bisnis Liberal-Kapitalis
daripada pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Wartawan Online Abal-abal menulis =
Menteri Anu benci kepada daging kambing makanan Rasulullah SAW

Si KOnyol menulis Tweet =
Astaghfirullah. Ada upaya penyesatan Akidah! Kambing yang disukai Rasul dianggap tidak baik oleh Menteri Anu. Kita sedang digiring kepada cara pandang kafir.

Akhirnya Si Menteri, bludreg! Jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit.

Tapi Si Bonyok nulis pesan di Grup WHatsAPP =
Mampus lo menteri Anu! Kualat! Berani-beraninya membenci Rasulullah.

Akhirnya, berita itu viral dan semua bahagia selamanya. Begitulah  drama berita kita.

Etika Berpolitik

Jargon politik "Ganti Presiden 2019" itu sekilas tampak syah-syah saja di negara demokrasi. Tetapi jika dipikirkan lebih mendalam, maka akan sangat menciderai nilai demokrasi itu sendiri. Dan ini bukan sekedar himbaun moral, namun jelas ada motivasi politik. Bukannya ini langkah mencuri garis start kampanye? Pemilu saja belum, koq muncul jargon-jargon politik "Ganti Presiden 2019".

Apalagi fakta survai tidak menunjukkan ke arah itu lalu argumen rasionalnya apa yang dijadikan dasar? Merongrong Pemerintah? Pemerintah yang terpilih secara demokratis adalah representasi Negara. Jadi menghujat Pemerintah sama saja menghujat Negara. Apalagi muncul kata-kata: bapak Jokowi, sadarlah, rakyat ingin presiden baru. Rakyat yang mana? 

Hasil survai tingkat kepuasan rakyat terhadap Presiden Jokowi diatas 60%. Apa bisa seenaknya mengatasnamakan rakyat untuk tujuan politik dari kelompok tertentu? Ini generalisir salah kaprah. Sungguh memalukan. Seorang politikus mustinya menjaga etika dan moral dalam perilaku politiknya. Lebih baik, energinya disalurkan untuk menyusun program yang bermutu dan bermanfaat bagi rakyat, untuk diadu di Pilpres 2019. Mau milih pak Jokowi silakan, mau milih pak Prabowo ya silakan. Bebas, ini pilihan politik seseorang. Jadi tidak perlu ada upaya-upaya yang sifatnya provokatif dan menyebar fitnah hanya untuk membunuh karakter seseorang. Mari kita berdemokrasi yang sehat, jantan dan bertanggung jawab. 

Siapapun yang menang di pilpres 2019, harus kita hormati dan kita akui sebagai kemenangan bersama dalam membangun bangsa. Manuver-manuver politik para elit politik saat ini sudah kebablasan dan berkualitas comberan, demokrasi bar-bar alias tanpa fatsun politik. Agama yang seharusnya dijadikan rujukan moral dan etika, malah dijadikan instrumen politik untuk mencari kebenaran dalam menghalalkan caranya, yang dalam banyak hal sangat amoral.  

Yang tergambar di otak saya setelah baca jargon politik "Ganti Presiden 2019"  adalah manuver politik segerombolan orang yang birahi politiknya luar biasa besar, ingin segera berkuasa, sehinga menghalalkan segala macam cara. Akibatnya, tidak bisa melihat fakta dan tidak mampu menerima fakta politik secara legowo. Sekali lagi, Pemerintah hasil pemilu yang demokratis adalah representasi Negara. Tidak selayaknya dirongrong seperti itu...nauzubillah minzallig....


Ir. KPH. Bagas Pujilaksono WIDYAKANIGARA, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.
UNIVERSITAS GADJAH MADA
(fwd) 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Lubuk Pakam

Si Gelleng (8 thn) anak Porsea mau pigi ke Medan, diantarkan sama mamaknya si Tiur ke terminal bus.

Togar (kernet):  "Medan..., Medan inang...?"

Tiur : "Bang.., tolong nanti kalok sudah sampek di Lubuk Pakam kasih tau sama anakku ini yaa...?"

Togar : "Beres lah itu inang...., tariiik bang......!!"

Lewat Siantar si Gelleng tanyak sama kernet:  "Sudah dekat Lubuk Pakam bang...?"

Togar : "Belum dek...... masih jauh, masih lama..."

Masuk Tebing Tinggi si Gelleng betanyak lagi: "Sudah sampek Lubuk Pakam bang....?"

Togar : "Belum lagi, masih jauh..."

Si Gelleng bosan tidak nyampek-nyampek, akhirnya dia tertidur.  Bus terus bejalan arah ke Medan dan tidak terasa Bus sudah melewati Lubuk Pakam dan si Togar kernet bus lupa pulak sama pesannya mamak si Gelleng.  Pas teringat, bus sudah sampek pulak di Tanjung Morawa.  Dia bilang sama bang supir:  "Aduh bang, bedosa kali laa aku sama anak kecil tu..." sambil menunjuk ke si Gelleng yang tertidur pulas.

"Kenapa rupanya...?" tanyak si supir.

Bingung bercampur takut sama si supir  lalu Togar berkata:  "Tadi waktu mau berangkat mamaknya titip sama aku bang, kalok sudah sampek Lubuk Pakam, kasih tau sama anaknya...!"

"Bah..., cemana nya kau ini? Lubuk Pakam pun udah jauh pulak...!" cakap si supir.

Untungnya bang supir baek pulak orangnya.  Dengan persetujuan penumpang yang sedikit ngomel, mau pulak dia balek ke Lubuk Pakam setelah mintak persetujuan penumpang. 

Sampek di Lubuk Pakam, lalu dibangunkanlah Si Gelleng dari tidurnya.  

"Hoiiii Gelleenng....!!! Bangun kau... sudah sampek Lubuk Pakam!"

"Bah, sudah sampek nya kita bang?" kata si Gelleng sambil sibuk bukak tasnya mengeluarkan nasi bungkus sama teri medan lengkap sambal andalan dan jengkolnya.

"Turun disini kau Gelleng?" tanya si Togar curiga.

"Ahhh enggak bang... aku mau ke Medan. Tadi Mamak ku pesan, nantik kalok sudah sampek Lubuk Pakam, aku disuruh makan nasi bungkus ini....." kata si Gelleng slow sambil mengunyah jengkol dgn lahapnya.

Sopir, kernet dan semua penumpang serentak besuara:  


"LONTONG KAUUUUU !!!"

Merasa Paling

Sehubungan adanya komentar yang meresahkan dari beberapa anggauta PKS dalam menyikapi terorisme yang belakangan ini terjadi di NKRI, marilah kita sama sama mengkaji kiriman artikel Taufik Damas yang sangat menarik ini, semoga bermanfaat.

PARTAI SUCI ITU BERNAMA PKS

Pernahkah Anda mendengar PKB adalah Islam, dan Islam adalah PKB?

PPP adalah Islam, dan Islam  adalah PPP?

PAN adalah Islam, dan Islam adalah PAN?

Pendek kata, ada yang menganggap Partai Islam itu adalah representasi dari Islam, dan Islam adalah Partai Islam.

Apa dipikir Indonesia hanya punya satu partai berbasis Islam, namanya PKS?

Hingga dengan mudahnya menyatakan PKS adalah mewakili Islam, dan Islam adalah PKS.

Pernahkah Anda dituduh menyerang PKB itu sama dengan menyerang Islam?

Menyerang PPP, PAN, PBB berarti menyerang Islam?

Pendek kata mereka bilang, menyerang Partai Islam sama saja menyerang Islam.

Apa dipikir Indonesia hanya punya satu partai Islam, namanya PKS?

Hingga dengan mudah menyatakan menyerang PKS berarti ingin menghancurkan Islam.

Pernahkan Anda mendengar orang yang tidak suka dengan PKS langsung dituding pembenci Islam?
Dan akan dapat titel kafir, Dajjal, antek Zionis, liberal, asing, aseng & asong saat menyinggung PKS?

Hina & cacimakilah Gus Dur, maka kalian kan disanjung oleh militan PKS.

Hujatlah tokoh yang berseberangan dengan PKS, maka kalian dianggap pahlawan pembela Islam oleh kader PKS.

Apa dipikir Indonesia hanya punya satu tokoh Islam ketua PKS?

Hingga dengan mudah menyatakan, menyerang ketua PKS berarti menyerang Islam.

Apa dipikir tokoh Islam cuma di PKS? Lalu dengan enaknya menganggap yang tidak suka dengan tokoh PKS itu sama dengan benci Islam.

Pembelaan yang membabi buta semacam ini, menggambarkan sifat sombong dan keangkuhan.

Seolah hanya PKS yang memegang kendali dan kebenaran atas Islam. Seolah-olah Allah menyerahkan sebagian kuasaNya kepada PKS, untuk menjadi Nabi baru.

Padahal PKS hanyalah partai politik, bukan Agama. Sama sebangun dengan partai Islam lainnya.

Apalagi jika ditelusuri jejak sejarah, PKS hanya sekedar “tamu” di Indonesia. Sungguh takjub, ada tamu dapat bertindak tidak sopan dengan “tuan rumah”.

Mengapa dibilang tamu?
Kenyataannya seperti itu.

Memangnya PKS itu siapa? Bila orang-orang PKS berkebangsaan Indonesia, itu benar.

Tetapi aliran dan ajaran PKS suatu yang asing bagi kita bangsa Indonesia.

PKS itu ajaran asing yang kebetulan mampir di Indonesia. Kalau tidak percaya, cobalah telusuri satu per satu partai Islam di Indonesia:

-PAN didirikan oleh orang Muhammadiyah. Dan gerakan Muhammadiyah sudah ada sebelum kemerdekaan.

-PKB didirikan oleh kaum Nahdliyin. Dan ormas NU sudah ada sebelum kemerdekaan.

-PBB jelmaan dari Masyumi. Dan Masyumi sudah ada sebelum kemerdekaan.

-PPP lahir tahun 70-an awal, fusi dari partai-partai Islam.

Lalu PKS berakar ke mana? Tidak ada.
PKS mengacu kepada gerakan *Ikhwanul Muslimin/IM di Mesir.

Padahal di tahun 1940-an, Masyumi yang merupakan gabungan dari 8 organisasi massa Islam, sudah sejajar kedudukannya dengan IM (Ikhwanul Muslimin) di Mesir atau dengan Partai Jama’atul Islam di Pakistan.

Lalu coba tanya kepada orang Muhammadiyah di PAN, siapa panutan mereka? Akan disebut KH. Ahmad Dahlan atau Ki Bagus Hadikoesomo.

Tanya lagi kepada orang NU di PKB.
Pasti akan muncul nama KH. Hasyim Asy’ari atau KH. Wahab Chasbullah.

Silakan tanya kepada Yusril Ihza Mahendra siapa panutannya? Tidak lain akan menyebut M. Natsir.

Kemudian tanyakan juga kepada orang PKS, siapa panutannya? Akan keluar nama Hasan al-Banna, tokoh IM.

Siapa lagi ini?

Orang Indonesia kah?

Orang PKS tidak bisa menyebut nama tokoh Islam di Indonesia. Karena mereka hanya tamu di sini.

Ketika Yusril sering disebut Natsir muda, orang PKS tidak mau ketinggalan.

Mereka mencoba  mengidentikan Anis Matta sebagai Soekarno muda. Apa tidak keblinger?

Apa sambungan ideologi dan ajarannya? Ketidak-mampuan mengacu kepada tokoh Indonesia sangat wajar, karena ajaran PKS milik IM di Mesir yang kebetulan mampir di Indonesia.

sedangkan tokoh IM sendiri dari dulu banyak terlibat pemberontakan di negaranya dan banyak yang sudah ditangkap.

PKS merupakan jelmaan orang Ihwanul Muslimin Mesir, maka tidak heran perilakunya asing bagi bangsa kita.

Supaya dibilang lebih “Islami” kalau ngomong harus banyak pakai bahasa Arabnya, seperti: ana, antum, ihwan, ahwat.

Padahal bagi santri pesantren NU, bahasa arab jadi makanan sejak kecil. Tetapi para kiai NU, terutama di daerah Jawa, lebih suka pakai bahasa Jawa saat berkhotbah, ataupun saat membacakan shalawat Rasul.

Jangan dikira orang NU dan Muhammadiyah, tidak fasih kajian al-Qur'an dan Hadits. Tetapi mereka (Nahdliyyin & Muhammadiyah) tidak mau pamer, dikit-dikit kutip ayat supaya dibilang orang Islam kaffah.

Dalam pergaulan sehari-hari, orang-orang PAN, PKB, PPP, atau PBB tidak canggung berdiskusi dan berdialog dengan umat agama lain.

Bahkan tidak pernah menyebut umat lain dengan perkataan Kafir atau Dajjal, apalagi sesama Muslim.

Ya, karena mereka sadar. Yang membedakan hanya agama saja, tetapi tetap sebagai satu bangsa Indonesia.

Apakah tidak ada perdebatan di antara aliran Islam ini?

Ya pastinya ada, bahkan sejak zaman dahulu, masalah khilafiyah terus saja diperdebatkan. Dari soal Qunut, Hisab atau Rukyat, ziarah kubur, dan lain- lain.

Paling banter hanya keluar kata “ini khilafiyah”. Tidak ada tudingan satu sama lain yang mengatakan bid'ah sesat, Dajjal atau Kafir.

Dan tidak ada yang mengatakan satu sama lain, ingin menghancurkan Islam.

Lalu ada tamu namanya PKS, bisa lebih hebat ketimbang tuan rumah.

Merasa paling Islam di bumi Indonesia, padahal cuma numpang hidup di Indonesia.

Dan yang paling mengagumkan yaitu mereka mau “meng-Islamkan orang Islam”.
Waduh, hebat benar ya mereka dengan “agama” PKS-nya.

Aliran agama yang jadi tuan rumah, dianggap bukan mengajarkan Islam.

Itu kan sama saja,
mau meng-Islamkan orang NU, mau meng-Islamkan orang Muhammadiyah, mau meng-Islamkan orang Persis; mau meng-Islamkan orang Masyumi.

Apa dikira para Kiai itu buta huruf, tidak bisa baca ayat al-Qur'an, hadits dan fiqh?

Padahal itulah yang “dimakan” setiap hari di pesantren.

Kenapa mereka dibilang numpang hidup?
Karena ajaran mereka ini tidak punya akar di Indonesia. Ajaran mereka ini tidak bisa tumbuh
sendiri, tanpa menggantung hidup di pohon yang sudah ada, yakni seperti benalu.
Ajaran mereka ini bisa tumbuh besar, jika pohonnya berakar kuat dan besar juga.

Indonesia mayoritas penduduknya
Muslim, dan sudah tumbuh pohon
seperti Muhammadiyah, NU, Masyumi, Perti dan Persis. Dari sanalah PKS numpang hidup dan jadi benalu.

Coba pikir, apa bisa ajaran IM (ihwanul muslimin) Mesir ini tumbuh besar di Australia, India atau Birma, dimana penduduk muslimnya minoritas?

Jikalau pun bisa, apa bisa tumbuh besar?

Apa bisa menjadi partai hebat seperti di Indonesia?

Padahal kalau memang benar mau menyebarkan misi Islam, justru di negara non Muslim-lah yang seharusnya menjadi sasaran utama. Tetapi, karena sifatnya benalu, mereka tidak akan bisa tumbuh besar.

Ditambah lagi ajaran IM Mesir ini, berubah menjadi Partai Politik. Sifat benalu bertambah menjadi sifat bunglon. Tidak ada yang jadi pegangan utama, selain mau merebut kekuasaan. Aneh, tidak punya peran dalam sejarah kemerdekaan dan mendirikan negara ini, malah mau merebut kekuasaan.

Apa sifatnya bunglonnya? Lihat saja.

Masuk ke perkotaan dimana sudah ada tuan rumah Muhammadiyah di situ, pura-pura jadi Muhammadiyah.

Masuk ke desa, yang banyak kaum Nahdliyin, pura-pura juga ikut dalam tradisi NU.

Yang lebih tragis bukan hanya itu, mereka masuk dan ingin merangkul kaum abangan, dimana banyak golongan nasionalis di situ. Lalu mereka menjelma jadi orang nasionalis juga.

Ikut teriak Merdeka juga.

Ikut memuji Soekarno juga. Padahal mereka biasa bilang Nasionalisme itu tidak ada dalilnya.

Ingatlah pada pemilu yang telah lalu!
Mereka mau merebut basis Golkar, mulai merapat ke keluarga Soeharto.

Meskipun Amin Rais capres dari tokoh Islam malah diacuhkan, lalu mereka mendukung Wiranto agar bisa dekat dengan militer.

Dan lihat saat Wiranto dan Yusuf Kalla gagal masuk putaran kedua, secepat kilat mendukung SBY.

Lalu bilang ke SBY, bahwa PKS sudah kerja keras peluh keringat memenangkan SBY, supaya dapat jatah Menteri. Dengan penuh semangat tak tahu malu, saat posisi SBY masih kuat, bilang komitmen dengan koalisi dan menjadikan SBY sebagai imam.

Tiba saatnya SBY melemah, berbalik menyerang SBY. Kini PKS menyanding dan terus menempel ke Gerindra. Lihat saja suatu saat Gerindra kan ditikung dan ditusuk dari belakang oleh partai suci, yakni PKS.
Ya, itulah sifat bunglon dan benalu. Tamu yang tidak tahu malu. Tamu yang bangga bisa menjadi orang IM Mesir.

Untuk menutup kedok ajaran IM Mesir, bilang membawa ajaran Islam Kaffah. Malu menyebut diri sebagai bangsa Indonesia. Tetapi doyan dengan kekuasaan yang ada di Indonesia.

Jika tokoh PPP, PKB, PAN, PBB seperti Yusril, Gus Dur, Amin Rais bisa dengan gamblang bicara tentang konsep kenegaraan Indonesia, tentang hukum, ekonomi, kesenjangan sosial, pluralisme, serta Pancasila.

Namun sebaliknya orang PKS gagap, hanya bisa mengutip ajaran Ikhwanul Muslimin Mesir. Hanya bisa menjual khilafah, pokoknya apapun masalahnya, khilafah adalah solusinya.

Agar lebih sedap, ditambah sedikit ayat suci dan cukilan hadits. Maka jangan heran jika perilaku orang IM Mesir ini, aneh dan asing di mata kita.

Ambil contoh kasus saja tentang korupsi dan KPK. Sebelumnya sudah banyak orang PPP, PKB, PAN yang ditangkap KPK.

Tidak ada yang bilang KPK itu Zionis atau antek Amerika. Padahal partai ini partai Islam juga. Mereka lebih tunduk dan patuh pada penegakan hukum.

Ya, karena orang partai ini, mengerti hukum di Indonesia. Beda sekali, ketika orang PKS ditangkap KPK.

Sifat orang IM-nya keluar. Tuding sana, tuding sini. Sruduk sana sruduk sini.

KPK dianggap menyerang Islam, dianggap merintangi dakwah Islam, dianggap musuh Islam, bahkan berusaha untuk membubarkan KPK. Kita sampai heran dibuatnya.

Mau gimana lagi, memang itu watak orang IM. Mana mereka mengerti hukum di Indonesia, bukankah mereka itu hanya sekedar tamu yang menumpang hidup di Indonesia.

Saya lebih bangga jadi bangsa Indonesia ketimbang jadi jelmaan orang IM Mesir.

Alhasil tak ada beda antara PKS dengan HTI. Selamatkan diri kalian dan keluarga
dari PKS maupun HTI!

Waspadalah!!!...
Taufik Damas

*Ikhwanul Muslimin/Muslim Brotherhood adalah gerakan Islam yang disebut sebagai organisasi teroris di Timur Tengah. Ikhwanul Muslimin dianggap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Bahrain, Mesir, Rusia, Suriah, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dan ditolak kehadirannya disana.

   ——————••••—————

Selasa, 22 Mei 2018

Suteki

Kerap Tulis Khilafah di Medsos, Profesor Undip Disidang Etik


Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang, Profesor Suteki, terpaksa disidang kode etik karena diduga anti-Pancasila. Pengajar pada fakultas hukum itu diketahui banyak mengunggah informasi atau konten tentang khilafah di akun media sosialnya.

Sidang etik terhadap salah satu guru besar kampus negeri ternama di Jawa Tengah itu digelar oleh petinggi kampus yang tergabung dalam Dewan Kehormatan Kode Etik (DKKE). DKKE ialah badan pelaksana kampus yang berada di bawah pengawasan Senat Akademik.

Sidang itu digelar selama dua hari, yakni 22-23 Mei 2018. Sidang pertama sudah dibuka hari ini dan dijadwalkan memanggil Suteki pada Rabu, 23 Mei.
"Mudah-mudahan hasil keputusannya bisa diumumkan besok," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hubungan Masyarakat dan Media Undip, Nuswantoro Dwiwarno, di Semarang pada Selasa.

Pemanggilan Suteki ialah sikap tegas Undip sebagai kampus negeri yang bekomitmen menolak tegas serta menyayangkan segala bentuk ujaran dan tindakan yang bertentangan dengan konstitusi dan Pancasila.

"Apabila terbukti adanya pelangaran etik akademik, maka kepada yang bersangkutan akan dikenakan sanksi sesuai disiplin ASN (aparatur sipil negara)," ujarnya.

Suteki diketahui sering mengunggah tulisan pemikirannya di media sosial Facebook. Artikel-artikel itu lebih banyak tentang sistem khilafah atau sistem pemerintahan multinasional berdasarkan hukum Islam yang banyak dikaitkan dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Nuswantoto memang tidak menjelaskan detail apakah Suteki pernah bergabung dengan HTI. Namun, katanya, Suteki memang menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Organisasi Kemasyarakatan atau Perppu Ormas beberapa waktu lalu.

Suteki masih diizinkan mengajar pada Jurusan Hukum dan Masyarakat di Fakultas Hukum Undip. Kampus itu telah mengeluarkan surat edaran resmi untuk menyikapi kasus viralnya staf Undip yang diduga menyimpang dari Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Mohammad Arief Hidayat
NASIONAL


Selasa, 22 Mei 2018 | 17:45 WIB

Forum Pasundan

5 tuntutan Forum Pasundan Bergerak terhadap DPW PKS Jabar:

1. Mendesak dan mengajak seluruh rakyat untuk menolak politik bertopeng agama dan faham radikalisme PKS yang menjadi pemicu lahirnya kejahatan terorisme.

2. Pecat kader-kader PKS yang menganggap kasus teroris adalah rekayasa.

3. Mendesak PKS agar segera menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas sikap PKS yang bungkam pada segala bentuk kejahatan teroris.

4. Jangan jadikan Jawa Barat sebagai lumbung Teroris.

5. Mendesak Polri, BIN, Pemerintah dan seluruh elemen rakyat untuk melakukan pengawasan ketat pada seluruh kantor PKS di seluruh Indonesia, guna memantau dugaan keterlibatan PKS dalam aksi radikalis dan teroris.***

http://www.balebandung.com/forum-pasundan-bergerak-geruduk-kantor-dpw-pks-jabar/

__________________