Senin, 19 Februari 2018

Benih

hari ini, genap 39 tahun
anak yang terus kau jaga
mempertahankan benihku
walau orang tua kita tak sepakat

dia tumbuh, menjadi
aku boleh memperhatikannya dari jauh
tak dapat menyentuhnya










Ramsay

RICH KIDS


Gordon Ramsay mungkin chef paling kaya di dunia, tetapi anaknya tidak sekaya bapaknya, karena mereka tidak akan mewarisi kekayaan Ramsay yang besarnya US $140 juta (Rp 1,8 trilyun).  

Gordon Ramsay termasuk salah satu orang super kaya yang berkata bahwa  ia tidak akan mewariskan hartanya pada anak-anaknya, di samping  Bill Gates, Warren Buffett, George Lucas dan Sting.

Alasannya, ia tidak mau memanjakan mereka sehingga mereka berakhir sebagai orang yang gagal.

Anak-anak Ramsay terbang dengan kelas ekonomi, sementara Ramsay dan istrinya terbang dengan “first class”.  

Menurutnya,
“Mereka belum bekerja cukup keras untuk layak mendapatkan hal itu.”

Anak-anaknya diberi uang saku secukupnya, dan mereka harus membayar biaya telepon serta bus (mereka sekolah naik bus bukan mobil). 

Anak-anak Ramsay terlibat aktif dalam kegiatan sosial, dan mereka diajar untuk memasak supaya memiliki ketrampilan untuk hidup, mereka diajarkan harus berjuang sendiri untuk meraih cita-cita mereka.

Memberi fasilitas terlalu banyak akan melemahkan daya juang anak-anak Anda. Membuat mereka tidak bertanggung jawab, dan berperilaku buruk karena merasa berhak mendapatkan perlakuan bintang lima karena kekayaan orang tua mereka. 

Tetapi orangtua seringkali melakukannya dengan alasan bahwa mereka bekerja keras untuk anak-anaknya. MEREKA DAHULU SUSAH, DAN TAK MAU ANAKNYA JUGA MENGALAMI KESUSAHAN.

Alasan lain karena mereka malas mendidik dan menyerah saja ketika anaknya merengek, 

“Semua temanku yang lain punya itu...”. 

Sehingga anak menjadi anak gampang, tidak punya daya juang, tidak punya skill memperjuangkan sesuatu.

Anak anak tidak cukup dibekali dengan knowledge akademik saja. Justru yang mahal adalah jam terbang bertahan dalam kesulitan, tahan stress dan kaki yang kuat untuk pantang menyerah!

Apa yang sebenarnya KEBUTUHAN anak-anak dari Anda?

Cinta kasih, 
Bimbingan rohani,
Arahan tehnis,
Tempat tinggal, 
Makanan, 
Pakaian,
Pendidikan dan 
Pemeliharaan kesehatan.

  
Yaa...Itu saja!

Selir

Junaid berkata: aku membutuhkan senggama sebagaimana aku membutuhkan pangan. Bahkan sosok Ibnu Umar yang paling zuhud dan paling sering berpuasa, pun berbuka dengan senggama menjelang makan. Kadang dia bersenggama dulu sebelum maghrib lalu mandi dan sembahyang. 

Diriwayatkan pula bahwa dia juga bersenggama dengan keempat selirnya di bulan Ramadan menjelang shalat Isya. 

Bahkan Ibnu Abbas RA pun pernah berkata: sebaik-baiknya umat ini adalah yang paling banyak menikah. Konon, Sufyan bin Uyaynah pernah berkata: banyaknya istri bukanlah bagian dari kemewahan dunia. Sebab Ali bin Abi Thalib yang merupakan Sahabat paling zuhud pun memiliki empat istri dan tujuh belas selir. 

😆😆😆

*Kitab Qut al-Qulub fi Muamalatil Mahbub (Santapan Hari di Dalam Perlakuan terhadap Kekasih) karya Syeikh Abi Thalib al-Makki, wafat 386 H)*

Paspampres

Cegah Anies Dampingi Presiden, Paspampres Hanya Mengikuti Daftar Nama dari Panitia


Usai pertandingan final Piala Presiden 2018, beredar video pendek saat-saat menjelang penyerahan piala. Dalam video terlihat anggota Paspampres mencegah Gubernur Jakarta Anies Baswedan untuk turun mendampingi Presiden. 

Tindakan tersebut merupakan prosedur pengamanan karena Paspampres berpegang pada daftar nama pendamping Presiden yang disiapkan panitia. Paspampres hanya mempersilakan nama-nama yang disebutkan oleh pembawa acara untuk turut mendampingi Presiden Joko Widodo. 

Tidak ada arahan apapun dari Presiden untuk mencegah Anies. 
Mengingat acara ini bukan acara kenegaraan, panitia tidak mengikuti ketentuan protokoler kenegaraan mengenai tata cara pendampingan Presiden oleh Kepala Daerah.

Selama pertandingan, Presiden Jokowi dan Gubernur Anies sangat menikmati jalannya pertandingan final. Keduanya menonton dengan rileks, sangat informal, serta akrab. Presiden menyampaikan selamat dan menyalami Anies saat Persija mencetak gol.

Karena bukan acara resmi, Presiden juga masih perlu menunggu selama 15 menit di lapangan hingga  selesainya pemberian penghargaan lain sebelum menyerahkan Piala Presiden kepada Persija.

Jakarta, 18 Februari 2018
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Bey Machmudin

Dia Layak

Menteri terbaik dunia: Mengapa Sri Mulyani layak mendapatkan predikat itu?


Ketika mendengar bahwa Sri Mulyani mendapat penghargaan sebagai Menteri terbaik dunia di World Development Summit di Dubai, saya tak terlalu terkejut. Bahkan mungkin, menurut saya, penghargaan ini agak terlambat. Seharusnya ia memperoleh predikat itu sejak beberapa tahun lalu.

Mengapa? Banyak studi yang menunjukkan bahwa salah satu pilar utama stabilitas makroekonomi Indonesia adalah stabilitas fiskal.

Ketika Sri Mulyani kembali ke Indonesia untuk menjadi Menteri Keuangan pada tahun 2016, ia memastikan bahwa kebijakan fiskal kita kredibel. Secara berani ia memotong anggaran sekitar Rp140 triliun, untuk memastikan bahwa anggaran pemerintah realistis, kredibel dan memberikan fondasi yang kokoh bagi struktur ekonomi Indonesia.

Tentu tak semua setuju. Kebijakan ini dianggap procyclical, tidak mendorong pertumbuhan. Padahal dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, yang harus dilakukan adalah ekspansi fiskal.

Kritik ini tentu saja ada benarnya. Namun jangan dilupakan, sebelum ekspansi fiskal dapat dilakukan, harus dipastikan dulu, bahwa anggaran pemerintah berkelanjutan (sustainable). Bila tidak, itu akan membahayakan perekonomian.

Kita belajar dari pengalaman Brazil, bagaimana defisit anggaran yang tak terjaga mengakibatkan perekonomian Brazil terpuruk, terutama setelah Taper Tantrum 2013.

Kita juga belajar dari pengalaman Yunani, bahwa defisit anggaran yang dibiayai oleh utang yang terlalu besar membawa perekonomian mereka kedalam krisis.

Selain itu, tentu kita harus mencatat: bahwa defisit anggaran di Indonesia yang meningkat tajam tahun 2015-2016, lebih disebabkan oleh rendahnya realisasi penerimaan pajak, akibat target pajak yang terlalu tinggi. Dan ini menggoyahkan kepercayaan orang kepada fondasi makroekonomi kita.

Sri Mulyani mengembalikan keberhati-hatian fiskal (fiscal prudence).

Saya ingat, dalam sebuah diskusi informal dengan Sri Mulyani, saya mengatakan beruntung sekali langkah itu diambil sebelum Trump menjalankan kebijakan pemotongan pajaknya dan sebelum the Fed merencanakan untuk mempercepat kenaikan bunga. Bila tidak, kekuatiran akan fiskal yang tak kredibel akan mendorong arus modal keluar jauh lebih besar dibanding beberapa waktu lalu.

Tentu kita harus mencatat: ke depan kebijakan fiskal harus bergerak lebih dari sekedar penopang stabilitas makro, itu harus menjadi instrumen countercyclical dalam perekonomian. Namun ia membutuhkan tahapan.

Kita sudah mulai melihat arah itu sekarang. Pertumbuhan ekonomi 2018 berpeluang untuk tumbuh lebih baik dibanding tahun 2017. Fondasi makro yang baik membantu hal ini.

Kebijakan fiskal procyclical adalah saat pemerintah memilih untuk meningkatkan belanja negara dan mengurangi pajak ketika ekonomi sedang baik, namun mengurangi belanja dan meningkatkan pajak saat resesi.

Sebaliknya, kebijakan fiskal countercyclical, pemerintah mengurangi belanja dan meningkatkan pajak selama ekonomi sedang baik, dan mengurangi belanja dan memotong pajak selama resesi.

Mungkin karena hal ini, Sri Mulyani pantas dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit.

Namun bagi saya, Sri Mulyani melangkah lebih jauh dari itu.

Ia tak hanya melakukan tugas utama Menteri Keuangan: memastikan kesinambungan fiskal dan menggunakan fiskal sebagai instrumen untuk pertumbuhan, stabilitas dan alokasi anggaran untuk mencapai target pembangunan seperti mengurangi kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

Sri Mulyani bergerak lebih jauh. Dan hal ini dilakukannya jauh sebelum ia mendapatkan penghargaan ini.

Bagi saya kontribusi yang luar biasa dari Sri Mulyani adalah pembangunan institusi di Kementerian Keuangan. Sayangnya tak banyak media lokal atau studi di Indonesia dibuat tentang ini.

Tahun 2015 saat saya menjadi Senior Fellow di Harvard Kennedy School, saya diundang oleh Princeton University untuk memberikan ceramah tentang Taper Tantrum. Tetapi yang menarik adalah mereka meminta saya juga untuk menjadi pengajar tamu disalah satu kelas dan membagi pengalaman reformasi di Kementeri Keuangan.

Princeton University memang menulis sebuah studi kasus tentang reformasi di Kementerian Keuangan berjudul: Changing a Civil Service Culture: Reforming Indonesia Ministry of Finance: 2006-2010

Saya cukup beruntung karena terlibat didalam proses reformasi itu, sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan ketika itu. Bagi saya, ini adalah kontribusi Sri Mulyani yang luar biasa.

Mereka yang memiliki interaksi yang cukup intens dengan Kementerian Keuangan akan melihat perbedaan yang fundamental sebelum dan sesudah tahun 2006.

Sri Mulyani bergerak lebih jauh dari memastikan kesinambungan fiskal.

Pembenahan institusi dilakukan secara menyeluruh. Ditata dengan sabar, tidak mudah. Termasuk upaya pemberantasan korupsi di bea cukai dan pajak. Masih jauh dari sempurna, namu upaya perbaikan dilakukan. Upaya pelayanan ditingkatkan. Tentu, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan.

Bahkan di banyak sisi kita masih melihat berbagai kelemahan. Namun kita memang melihat Kementerian Keuangan yang berbeda setelah reformasi institusi dimulai pada tahun 2006.

Saya menyaksikan bagaimana proses reformasi institusi dilakukan dengan gigih. Tak mudah, kadang menimbulkan rasa frustrasi. Kerap kali Sri Mulyani juga tersulut emosinya.

Ketika saya menjadi Menteri Keuangan di periode 2013-2014, proses ini dilanjutkan, dan saya merasakan bahwa tugas Menteri Keuangan menjadi lebih mudah, karena -- walau masih jauh dari sempurna -- Kementerian Keuangan sudah memiliki sistem yang lebih baik dalam hal standar, prosedur, evaluasi kinerja dan sebagainya.

Tak heran bagi saya bila pada tahun 2016 Princeton University merilis studi kasus Kementerian Keuangan.

Karena itu saya tak terkejut ketika membaca rilis resmi tanggal 11 Februari 2018 dari Sri Mulyani: "Berbagai upaya reformasi kebijakan telah dicanangkan di Kementerian Keuangan, bertujuan untuk mendorong kebijakan fiskal menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Reformasi birokasi di Kementerian Keuangan juga sudah membuahkan banyak hasil."

Sri Mulyani benar. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa ia berhak mendapat penghargaan itu sejak beberapa tahun lalu.

Tentu, keberhasilan ini, bukanlah keberhasilan individu. Seperti yang dikatakan Sri Mulyani, ia cukup rendah hati untuk mengatakan bahwa ini adalah keberhasilan kolektif, dan tentunya pengakuan akan keberhasilan Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo.

Kontribusi Sri Mulyani yang luar biasa adalah membenahi institusi Kementerian Keuangan.

Saya mengenal Sri Mulyani cukup lama. Satu hal yang tak pernah saya lupakan adalah pengalaman kami di G-20. Saya ringkaskan sedikit disini.

Dalam pertemuan G-20 di Pittsburgh, Presiden Obama meminta Indonesia untuk membagikan pengalamannya dalam menurunkan subsidi BBM. Kita ingat pada tahun 2005 dan 2008, Indonesia menaikkan harga BBM dan mengalokasikan subsidinya untuk rakyat miskin melalui program BLT.

Mungkin aneh bagi sebagian diantara kita, mengapa kebijakan yang di dalam negeri dicaci maki habis-habisan, justru dianggap cerita sukses dan patut contoh oleh negara-negara anggota G-20.

Siang itu, Presiden Yudhoyono sudah siap untuk memberikan paparannya. Sayangnya, waktu sangat terbatas, sehingga Presiden SBY tak jadi bicara.

Tentu kami semua -- saya ingat yang ada di ruang pertemuan itu adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani, juru bicara Presiden Dino Djajal, Mahendra Siregar dan saya sebagai Deputi Menteri Keuangan untuk G-20 -- merasa amat kecewa.

Kami berusaha meminta keterangan dari delegasi Amerika Serikat, tapi jawabannya tak memuaskan karena yang memimpin sesi itu adalah Obama sendiri. Mereka tentu tak berani menanyakan kepada Obama.

Saya ingat Sri Mulyani setengah berbisik kemudian mengatakan, "Sepertinya saya mesti ngomong langsung dengan Obama kalau begini". Saya kira dia bergurau. Tetapi kemudian saya sadar, Sri Mulyani serius dengan ucapannya.

Ia menghampiri Presiden Obama yang baru memasuki ruangan setelah jeda makan siang. Mereka berbicara berdua. Saya kebetulan berada kurang lebih dua meter di belakang Sri Mulyani, sehingga saya mendengar percakapan diantara mereka.

Dengan terus terang -- khas Sri Mulyani -- ia menyampakan kekecewaannya. Ia mengatakan bahwa Presiden Obama sudah meminta Indonesia untuk memberikan pidato, tetapi waktunya habis. Karena itu ia meminta Presiden Obama menyampaikan maaf kepada Presiden SBY dan memberikan kesempatan di sesi berikutnya.

Saya terkejut.

Presiden Obama -- saya kutip dari ingatan -- tersenyum dan mengatakan, "Itu kesalahan saya, saya minta maaf, saya akan berikan kesempatan di sesi berikutnya." Setelah itu saya lihat Presiden Obama menghampiri Presiden SBY dan berbicara berdua.

Dan di sesi berikutnya, Presiden Obama meminta maaf secara terbuka, dan meminta Presiden SBY untuk menyampaikan pidatonya.

Sri Mulyani kelihatan tersenyum. Sambil bercanda kami mengatakan kepada Sri Mulyani: sebetulnya ia lebih cocok menjadi Menteri Pertahanan ketimbang Menteri Keuangan!

Ini adalah anekdot kecil tentang Sri Mulyani. Tentu bukan karena itu, ia dinobatkan sebagai Menteri terbaik dunia oleh World Development Summit.

Bagi saya reformasi kelembagaanlah kontribusinya yang luar biasa. Hal ini persis seperti yang kita lihat sebagai salah satu agenda utama Presiden Joko Widodo untuk memperbaiki ease of doing business (kemudahan melakukan usaha): mempermudah perijinan, menghapus regulasi yang berbelit.

Reformasi inilah yang akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Selamat!



Muhamad Chatib Basri
Menteri Keuangan periode 2013-2014

Soesilo Toer

Banyak orang mengenal Pramoedya Ananta Toer, penulis ternama asal Blora. Namun, tidak dengan adiknya, Soesilo Toer, seorang do-ktor ekonomi politik lulusan Rusia. Kisah hidup Soesilo cukup menarik diceritakan karena sang doktor ini justru memilih hidup sangat bersahaja sebagai pemulung sampah.

Malam itu pukul 19.23 WIB, saat sebagian besar orang beristirahat bersama keluarga, Soesilo Toer siap dengan dua keranjangnya di atas motor. Adik Pramoedya Ananta Toer itu bersiap memulung sampah.

Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus, dia sudah berada di atas motor bututnya. Dia mengenakan celana krem, kaus, dan jaket hitam.

Di keremangan malam itu, kelihatan pakaiannya sudah lusuh. Helm cakil (helm dengan lingkaran bawah sampai dagu) yang menutup kepalanya juga kelihatan kotor. Greng, reng, reng, reng... Soesilo melesat meninggalkan rumahnya di Jalan Sumbawa, Kauman, Blora.

Tujuan pertama Jalan Mister Iskandar. Sekitar 100 meter dari rumahnya. "Beberapa hari lalu ada orang meninggal. Saya sudah tunggu sampahnya. Ternyata malam ini baru dibuang," ujarnya ketika berhenti.

Ada keranjang sampah di depan rumah warga kelihatan penuh. Bungkusan-bungkusan tas plastik hitam berserakan.

"Wah dapat kardus," pekiknya. Mata lelaki itu berbinar. Tertuju pada kardus bekas yang bersandar di pagar dekat keranjang sampah. Dia pungut kardus itu, lantas memeluknya erat-erat. Baginya kardus bekas pembungkus kulkas itu adalah rezeki nomplok.

Dia masukkan kardus itu ke dalam keranjang di motornya. Mula-mula, dia meletakkan kardus itu di keranjang kanan. Ternyata terlalu tinggi. Lantas dia meletakkan di bagian tengah. Namun tidak jadi. Takut terjatuh. Bebebapa saat kemudian, dia melipat kardusnya. "Begini saja," kata adik Pramoedya Ananta Toer ini setelah memastikan kardus itu tidak akan jatuh.

Tak Hidup dari Ijazah

Soesilo bukan pemulung sembarangan. Selain adik Pramoedya Ananta Toer yang sastrawan itu, dia adalah doktor ilmu ekonomi politik, lulusan Rusia (ketika masih bergabung dengan Uni Soviet) pula. Dia juga penulis. Bukunya yang telah terbit sekitar 20 buah. Masih ada belasan yang antre dicetak.

Sampai sekarang penjualan buku-bukunya masih berjalan. Sesekali dia juga diundang untuk berceramah di kampus. Namun, dia senang memungut sampah. Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Penghasilannya itu tentu tidak pasti. "Semalam kadang-kadang bisa mendapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu," dia menceritakan.

Sungguh penghasilannya sebagai pemulung amat kecil dibanding gelarnya. "Tapi apa saya makan gelar? Untuk hidup sehari-hari apa harus makan ijazah?" ujarnya berkali-kali. Bagi dia, bisa menjadikan barang yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat itu luar biasa.

Soes, sapaan akrabnya, senang dipanggil rektor alias korek-korek barang kotor. Nyaris setiap malam dia keliling kota untuk mengais sampah. Dia mencari apa saja. Dia pungut kardus, aneka botol, plastik, dan barang pecah belah, bahkan sisa makanan. "Untuk makan ayam," ujarnya terkekeh ketika mengemasi makanan basi di dekat restoran.

Tangannya yang tak bersarung menggerayangi sisa-sisa nasi bercampur sayur, tisu, dan tulang ayam. "Ini masih baru," katanya.

Esok hari ayamnya berpesta. Di rumah dia memelihara ayam belasan ekor. Ada juga dua ekor kambing yang juga diberi makan dari hasil memulungnya. Beberapa hari sebelumnya, dia membawa pulang salak. Tentu yang sudah tidak layak dimakan manusia. Istrinya memberikannya kepada kedua kambingnya.

Pekerjaan Soes sangat berat. Saat itu, Soes memunguti gelas pastik yang terselip di tumpukan sampah. Isi gelas itu tidak jelas. Warnanya kuning, antara makanan yang hancur atau muntahan, atau bahkan kotoran manusia. Beruntung ada sisa air mineral untuk membersihkannya.

Tak hanya di depan rumah warga, Soes juga mengais sampah di depan mini market. Di sana, sampahnya lebih ramah. Kebanyakan botol air mineral dan kaleng. Tidak ada makanan basi. Soes kelihatan lebih cekatan mengambil apa saja yang dianggap bernilai.

Setelah mengorek sampah di tiga jalan, Soes pamit pulang. Saat itu pukul 20.05 WIB. Berarti telah satu jam sejak dia berangkat. Tampak keranjangnya sudah penuh. Berkali-kali dia merapikannya. Dia pulang untuk meletakkan sampah-sampah yang telah dipungutnya.

Pada putaran kedua, Soes menuju Pasar Pitik. Di sana dia makin keras mengais tumpukan sampah. Meski demikian, tak banyak yang didapat. Dia tidak putus asa. Dia terus membuka satu per satu plastik pembungkus sampah.

Wajah Soes yang sebagian tertutup helm baru kelihatan agak berbinar ketika melihat sebuah lampu. Entah masih hidup atau sudah mati. Lampu ini berbentuk huruf O berwarna putih. Terbungkus kertas dan plastik. Bulatannya sedikit lebih besar dibanding piring makan. Dia amati sejenak lantas memasukkanya ke kantong.

Masih di lokasi yang sama, Soes belum mau beranjak. Dia terus mengaduk-aduk bak sampah. Meraba kantong-kantong plastik berwarna hitam. Dia mengaku pengalaman telah mengajarkannya mengetahui barang-barang dalam bungkusan tanpa harus membukanya.

"Hanya dengan meraba, saya bisa mengetahui isinya. Semua butuh proses dan pengalaman. Tidak bisa instan," dia menambahkan.

Saat tengah serius memilah barang-barang, ada orang yang menegur. "Wonten nopo kok foto-foto. Kulo sekalian difoto (Ada apa kok foto-foto. Saya sekalian difoto)," kata perempuan penjual satai kambing khas Blora itu.

Dia tampaknya mengenal Soes dengan baik. "Iya, Pak Soes biasa mundut sampah ten daerah mriki (Pak Soes biasa mengambil sampah di daerah sini)," katanya lalu tertawa.

Soes kemudian berpindah lokasi. Namun, masih di sekitar pasar. Tepatnya di depan penjual pakaian. Endang, pemilik toko mengaku tahu sosok Soes. Saban hari, dia melihat lelaki tua itu memunguti sampah di sekitar tokonya. Kadang dapat, kadang juga tidak.

Endang mengatakan Soes yang  merupakan adik Pramoedya Ananta Toer memiliki wajah yang serupa. "Itu kan adiknya penulis. Namanya Pramu atau Ananta Tur itu kan. Aduh, saya kok lupa. Pokoknya sastrawanlah," katanya lupa-lupa ingat. Lantas dia melanjutkan. "Bapak itu juga penulis," akunya meyakinkan.

Endang memastikan, sudah beberapa tahun terakhir Soes memungut sampah. Nyaris tiap malam dia melihatnya. Ada beberapa pemungut sampah yang dia hafal wajahnya. Salah satunya adalah Soesilo. "Saya sih tidak tahu kalau dia seorang doktor. Namun setahu saya, dia adik seorang penulis," ujarnya.

Sampai di depan sebuah butik, Soes berhenti. Dia amati bagian dalam toko. Dia pandangi satu persatu pelayannya. Pemilik toko itu, kata Soes, orangnya baik. Empat kali dia diberi uang. Bahkan, pernah juga diberi sarung. Belakangan dia tahu, pemilik toko itu bernama Ulfah. Namun, malam itu Ulfah tidak kelihatan. "Lagi ngeloni anaknya," kata seorang pelayan.

Sebagai ucapan terima kasih, suatu ketika Soes memberinya buku karyanya sendiri. Beberapa hari kemudian Ulfah sengaja mencegat Soes. Dia meminta maaf. Dia menyesal telah menganggap Soes sebagai pengemis. Dia tahu Soes seorang penulis hebat setelah membaca buku pemberiannya tersebut.

"Ya saya ini kan memang rektor. Korek-korek barang kotor. Jadi tidak masalah," guraunya.

Lepas dari depan butik itu, Soes dikejutkan munculnya seorang ibu dari balik pintu pagar. Saat itu, Soes sedang mengais sampah di keranjang depan rumahnya. "Kalian sedang apa?" tanya ibu itu. Agaknya dia curiga. Setelah dijelaskan ibu pun paham.

"Hidup itu romantika. Ada yang curiga, memaki, atau mencaci. Ada yang suka. Ada pula yang kasihan. Ya, begitulah romantika kehidupan," kata bapak satu anak itu.

Dia sudah mengalami berbagai pahitnya hidup. Bahkan, dianggap anggota PKI seperti kakaknya. Dia sudah mengalami kecewanya menjadi tahanan politik.

Di balik itu semua, dia juga pernah merasakan disanjung sebagai narasumber di kampus-kampus. Baginya, romantika kehidupan ya memang begitu. Kadang senang, sedih, bahagia, bangga, kecewa, juga marah.

Ketika keranjang sampahnya sudah penuh lagi, Soes kembali pamit pulang. Tak sampai setengah jam, dia sudah balik. Pada babak ketiga itu, Soes mengajak memulung ke sekitar Jalan Pemuda hingga Jalan Gunung Lawu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.15.

Di malam yang semakin larut itu, sebagian besar toko sudah tutup. Bahkan warung, kafe, dan restoran sudah berkemas-kemas. Soes tetap saja melanjutkan pekerjaannya. Justru pada saat itulah banyak pelayan restoran, kafe, dan warung membuang sampah. Sehingga putaran ketiga itu tak membutuhkan waktu lama untuk mengisi keranjangnya.

Akhirnya dia mengakhiri pekerjaannya malam itu sekitar pukul 22.45 WIB. Semua hasil jerih payahnya ditumpuk di halaman rumah. Motornya Surya Garuda yang digunakannya sejak 2006 itu, diletakkan begitu saja di teras rumah yang jauh dari bersih untuk ukuran orang awam.

Istrinya Suratiyem sudah tidur. Demikian juga anaknya. Soes baru benar-benar beristirahat ketika malam sudah beranjak dini hari.

Bagi Soes, memulung sampah bukanlah pekerjaan hina. Dia justru bangga dan menikmatinya. Sama bangganya ketika dia meraih gelar sarjana ekonomi, master, dan doktor ekonomi politik. Sama bangganya juga ketika dia diundang untuk berceramah di kampus-kampus.

Baginya, kenikmatan itu hedonis. Apabila bisa menikmati hidupnya sendiri, berarti bisa memberikan kenikmatan kepada orang lain.

Spiritualitas

Dr. Teilhard de Chardin dari ordo Jesuit.
Lahir di Orcines, pada tanggal 1 Mei 1881 dan meninggal di New York pada tanggal 10 April 1955. Dia adalah teolog, filsuf dan ahli paleontologi Prancis yang membangun visi terpadu sains dan mistisisme dengan pemikirannya; dari evolusi semangat dan pemikiran.

▪ Agama bukan hanya satu, ada ratusan.
Spiritualitas adalah satu.

▪ Agama adalah untuk mereka yang tidur.
Spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah bangun.

▪ Agama adalah untuk mereka yang membutuhkan seseorang untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dan ingin dibimbing.
Spiritualitas adalah untuk mereka yang memperhatikan suara hati mereka.

▪ Agama memiliki seperangkat aturan dogmatik.
▪ Spiritualitas mengundang kita untuk memikirkan segala sesuatu, mempertanyakan semuanya.

▪ Agama mengancam dan menakut-nakuti.
Spiritualitas memberi kedamaian batin.

▪ Agama berbicara tentang dosa dan kesalahan.
▪ Spiritualitas mengatakan, "belajar dari kesalahan".

▪ Agama menekan segala sesuatu dan dalam beberapa kasus itu salah.
Spiritualitas melampaui segala hal, membawa Anda lebih dekat dengan kebenaran Anda!

▪ Agama berbicara tentang tuhan; Itu bukan Tuhan.
Spiritualitas adalah segalanya dan, karenanya, itu ada di dalam Tuhan.

▪ Agama menciptakan.
▪ Spiritualitas menemukan.

▪ Agama tidak mentolerir pertanyaan apapun.
Spiritualitas mempertanyakan segala hal.

▪ Agama adalah manusia, ini adalah organisasi dengan peraturan laki-laki.
Spiritualitas adalah Tuhan, tanpa aturan manusia.

▪ Agama adalah penyebab perpecahan.
Spiritualitas bersatu.

▪ Agama mencarimu untuk percaya.
▪ Spiritualitas Anda harus mencarinya untuk percaya.

▪ Agama mengikuti ajaran dari kitab suci.
▪ Spiritualitas mencari yang suci di semua buku.

▪ Agama memberi makan ketakutan.
Spiritualitas memanfaatkan kepercayaan dan iman.

▪ Agama hidup dalam pikiran.
▪ Spiritualitas hidup dalam Kesadaran.

▪ Agama berhubungan dengan melakukan.
▪ Spiritualitas berhubungan dengan Diri.

▪ Agama memberi makan ego.
▪ Spiritualitas mendorong untuk melampaui.

▪ Agama membuat kita meninggalkan dunia untuk mengikuti tuhan.
▪ Spiritualitas membuat kita hidup di dalam Tuhan, tanpa meninggalkan kita.

▪ Agama adalah sekte.
Spiritualitas adalah meditasi.

▪ Agama mengisi kita dengan mimpi kemuliaan di surga.
Spiritualitas membuat kita hidup dalam kemuliaan dan surga di sini dan saat ini.

▪ Agama hidup di masa lalu dan di masa depan.
▪ Spiritualitas hidup di masa sekarang.

▪ Agama menciptakan cloisters dalam ingatan kita.
Spiritualitas membebaskan Kesadaran kita.

▪ Agama membuat kita percaya akan kehidupan kekal.
Spiritualitas membuat kita sadar akan Kehidupan Kekal.

▪ Agama menjanjikan kehidupan setelah kematian.
Spiritualitas adalah menemukan Tuhan di dalam batin kita selama hidup dan mati.

-Kami bukan manusia yang mengalami pengalaman spiritual.-
-Kami adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman manusia.-